Kompas.com - 18/08/2013, 16:03 WIB
Johannas Backir KOMPAS/MYRNA RATNAJohannas Backir
EditorErlangga Djumena


KOMPAS.com -
Dari tangannya lahir tas-tas cantik yang tak biasa. Semuanya berasal dari bahan baku unggul kriya Indonesia. Paduan anyaman, tenunan, batik, dan kulit.

Ada yang menggelitik benak Johannas Backir (51) ketika melihat sekelompok ibu cantik yang aktif mengampanyekan kerajinan Indonesia. Mereka semua mengenakan busana dari bahan batik dan tenun, bahkan ada yang memakai kebaya dan sarung. Namun, tengoklah tas yang dikenakan. Hampir semuanya menjinjing tas bermerek yang memiliki ”gembok” yang waktu itu sedang tren di kalangan kaum perempuan kelas menengah Indonesia. ”Harga tas branded yang mereka pakai selangit. Seandainya saja mereka mau memakai tas produksi sendiri....” pikir Johan.

Menurut Johan, ada semacam perubahan gaya hidup pada perempuan kelas menengah Indonesia, khususnya di Jakarta. Pada tahun 1980-an, para perempuan senang mengenakan baju bermerek, tetapi pada umumnya tak terlalu memperhatikan tas dan aksesori.

”Sekarang terbalik. Mereka senang mengenakan busana produk lokal seperti tenun, batik, sarung, tetapi aksesorinya, seperti tas dan sepatu, branded. Nah, bagaimana agar para perempuan ini mau membuat tren, menjadikan aksesori yang lokal sebagai tren? Kalau memang kelemahannya pada kualitas, masak sih kita enggak bisa menghasilkan produk berkualitas tinggi,” kata Johan.

Johan yang memiliki latar belakang pendidikan arsitektur dan cukup lama menggeluti dunia televisi, mulai dari penata panggung sampai produser, paham betapa kayanya budaya dan tradisi Indonesia, khususnya kerajinan tangan. Bukan itu saja, kerajinan tangan yang seharusnya menjadi andalan Indonesia, seperti anyaman, tenun, dan lainnya, justru sudah digunakan dalam rancangan sejumlah desainer dunia.

Johan mulai mendesain tas dengan bahan baku anyaman, kulit, dan tenunan pada tahun 2007. Sejak awal ia memang tidak berniat untuk memproduksi tas secara massal.

”Tas ini dibuat dari sulam Nareh yang dikembangkan di Pariaman. Ini dari kain lama, jadi hanya bisa dibuat untuk satu tas. Sementara tas ini dibuat dari kain tapis lampung, juga kain lama. Saya ingin agar kain tapis tidak hanya keluar di pesta-pesta adat, tetapi juga menjadi bagian keseharian kita,” kata Johan sambil menunjukkan sejumlah tas yang dipajang di sebuah ruangan khusus di kediamannya di Pos Pengumben, Jakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tas-tas yang berderet rapi di atas rak-rak itu disusun berdasarkan nuansa rancangan. Ada yang dibuat dari bahan baku tenun Sumba yang didominasi motif Sotis dan Pahikung. Ada juga sejumlah tas yang dibuat dari tenun Toraja. ”Yang bisa membuat motif seperti ini penenunnya tinggal satu. Belum ada regenerasi,” kata Johan.

KOMPAS/MYRNA RATNA Tas rancangan Johannas Backir.


Saat ini, Johan sedang memproduksi tas yang menggunakan bahan baku kulit penyu dari Sumba Barat. Rancangannya sungguh unik. Kulit penyu diukir dengan relief yang biasa ditemukan pada sirkam rambut antik milik warga Sumba. Ukiran tersebut kemudian ”dibingkai” kulit halus kualitas unggul dengan warna-warni cerah, seperti oranye, kuning, cokelat muda, menjadi tas model tote yang elegan. Ukiran yang simetris di kedua sisi tas membuatnya transparan sehingga isi tas samar-samar terlihat dari luar.

”Edisi kulit penyu ini hanya dibuat empat tas saja, sangat eksklusif. Pembuatannya lama, terutama pengerjaan ukiran kulit penyu yang butuh waktu sampai sebulan,” kata Johan.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.