Lalu Lintas Udara Sangat Padat, Izin Maskapai Dimoratorium

Kompas.com - 02/10/2013, 07:31 WIB
Penumpang menuju pintu keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Minggu (17/6/2012). Data dari Airports Council Internasional menyebutkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta tercatat sebagai bandara dengan pertumbuhan tertinggi di dunia sebesar 19,2 persen pada tahun 2011. Jumlah penumpang yang dilayani 52,44 juta orang. Kompas/Agus SusantoPenumpang menuju pintu keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Minggu (17/6/2012). Data dari Airports Council Internasional menyebutkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta tercatat sebagai bandara dengan pertumbuhan tertinggi di dunia sebesar 19,2 persen pada tahun 2011. Jumlah penumpang yang dilayani 52,44 juta orang.
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perhubungan mengeluarkan moratorium untuk penerbitan izin maskapai penerbangan baru. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan transportasi udara sehingga diharapkan tidak terjadi lagi keterlambatan akibat jadwal yang padat.

”Moratorium terhadap angkutan udara niaga berjadwal ini harus dilakukan karena saat ini lalu lintas udara sudah sangat padat. Sementara pertumbuhan infrastruktur dan sumber daya manusia masih belum secepat pertumbuhan lalu lintasnya,” kata Djoko Murjatmodjo, Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, di Jakarta, Selasa (1/10/2013).

Moratorium ini tidak membatasi maskapai yang sudah ada untuk menambah rute dan menambah jumlah armadanya. ”Kalau yang sudah ada, silakan saja memperbesar armadanya. Semakin banyak armada dan rute, tentu semakin banyak warga yang bisa dilayani,” ungkap Djoko.

Moratorium ini juga untuk mencegah persaingan antarmaskapai. Apabila ada maskapai baru, hal itu akan menambah persaingan.

Saat ini, Djoko mengatakan, belum ada yang mengajukan izin operasi maskapai penerbangan baru. Sementara untuk NAM Air dan Jatayu yang mengajukan izin operasi tetap diberikan karena mereka mengajukan izin itu sebelum moratorium ditetapkan.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan, saat ini Kementerian Perhubungan sedang mengembangkan bandar udara yang ada di kota-kota kelas menengah. ”Saat ini ada 238 bandara di seluruh Indonesia. Namun, belum semuanya mempunyai infrastruktur yang baik. Untuk itu kami akan mengembangkan bandara-bandara itu,” ungkap Bambang.

Dia menambahkan, saat ini ada tujuh bandara yang mendesak untuk dikembangkan. Ketujuh bandara tersebut adalah Tual, Saumlaki, Bawean, Raja Ampat, dan tiga bandara di Sumatera.

”Jika bandara di kota-kota itu dikembangkan, diharapkan konektivitas bisa terwujud sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata,” kata Bambang. (ARN)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.