Kompas.com - 14/10/2013, 07:28 WIB
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com - Krisis ekonomi global memasuki tahap baru. Perekonomian Amerika Serikat hampir ”kiamat”. Kali ini bukan soal apakah kebijakan moneter mencetak uang untuk membeli kembali obligasi Pemerintah AS (quantitative easing) akan dikurangi jumlahnya (tapering off), melainkan soal penghentian sebagian layanan publik (shut down) karena Pemerintah AS tidak diizinkan Kongres menambah utang.

Utang Pemerintah AS yang dipakai untuk menutup defisit anggaran sudah mencapai batas yang diizinkan konstitusi (debt ceiling), yang jumlahnya sudah melebihi produk domestik bruto sekitar 16 triliun dollar AS. Pemerintah Obama mengajukan proposal batas utang dinaikkan menjadi 16,7 triliun dollar AS, yang keputusannya akan diambil pekan ini, 17 Oktober 2013.

Apa konsekuensinya? Jika para politisi Partai Republik menolak, terjadilah shut down, yakni sebagian layanan publik akan dihentikan, seperti yang terjadi sekarang. Ini akan mengoyak bangunan kepercayaan terhadap reputasi dan kredibilitas Pemerintah AS.

Lebih jauh lagi, seperti ditulis Paul Krugman (”Dealing with Default”, The New York Times, 10/10/2013), para investor pemegang obligasi Pemerintah AS jangka pendek (T-bills) akan panik. Mereka akan ramai melepaskannya, untuk mencari aset lain yang dianggap lebih aman. Reputasi obligasi Pemerintah AS sebagai aset likuid yang paling aman di dunia akan runtuh. Obligasi Pemerintah AS bisa diibaratkan sebagai collateral damage, yakni barang atau aset yang diagunkan yang kondisinya rusak parah.

Jika kondisi collateral damage ini dibiarkan, bukan saja obligasi Pemerintah AS yang akan gagal (default), melainkan juga perekonomian AS secara keseluruhan akan runtuh. Karena AS masih merupakan negara dengan PDB terbesar di dunia, jauh melebihi peringkat kedua China (8,5 triliun dollar AS) dan Jepang (6 triliun AS), dampaknya pun akan menyebar ke seluruh dunia, hampir tanpa kecuali, termasuk Indonesia.

Karena itu, kini seluruh dunia berkepentingan agar Kongres AS menyetujui relaksasi pembatasan utang sehingga pemerintah federal AS bisa melanjutkan stimulus fiskal.

Saya masih yakin para politisi AS akan cukup rasional untuk menghentikan shut down pada pekan ini. Selanjutnya, investor global mestinya mulai menimbang kembali aset likuidnya, apakah obligasi Pemerintah AS masih favorit? Jika mulai meragukan, pilihannya adalah memegang aset dari emerging countries. China, yang pertumbuhan ekonominya 7,5 persen, tentu masih menjadi favorit. India, yang semula favorit berikutnya, kini terseok di 4,7 persen.

Indonesia tetap memiliki harapan untuk bisa kembali menarik investasi global ke sini. Dimulainya proyek infrastruktur mass rapid transit (MRT) di Jakarta, seperti halnya mulai dioperasikannya bandara baru Ngurah Rai dan Kualanamu, serta jalan tol laut di Bali, diharapkan bisa menjadi pertanda bahwa negara ini serius menangani infrastruktur yang menjadi titik terlemah dalam daya saing global.

Upaya untuk menarik investasi asing, apa pun bentuknya, baik jangka pendek (hot money) maupun jangka panjang (investasi langsung), harus terus dikampanyekan. Penyelenggaraan KTT APEC di Bali harus diteruskan dengan serangkaian upaya lanjutan. Komitmen membangun infrastruktur, selain membasmi korupsi, akan menjadi isu yang paling ”menjual”.

Sementara itu, ada dua hal menggembirakan terkait dengan kinerja ekonomi makro. Pertama, telah terjadi deflasi (inflasi negatif) 0,35 persen pada September 2013. Ini menyebabkan inflasi year on year 8,4 persen dan inflasi kalender (Januari-September 2013) 7,57 persen. Meski inflasi masih tinggi, dampak kenaikan harga BBM sudah mereda. Kenaikan harga BBM masih bersifat one shot inflation (inflasi yang ”sekali pukul” lalu mereda).

Kedua, neraca perdagangan sudah mulai surplus, yakni 132 juta dollar AS (Agustus 2013). Surplus ini kecil karena sebelumnya normalnya 2 miliar dollar AS per bulan. Namun, dalam kondisi kini, ketika komoditas primer sedang buruk, surplus sudah melegakan. Penyebabnya, melemahnya nilai tukar rupiah menjadi Rp 11.000-an per dollar AS, yang mendorong kenaikan ekspor dan penurunan impor. Kondisi ini bisa berlangsung hingga akhir tahun, seiring dengan tetap lemahnya rupiah.

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rupiah Melemah Terpapar Sentimen Lonjakan Covid-19 di China

Rupiah Melemah Terpapar Sentimen Lonjakan Covid-19 di China

Whats New
BPOM Sebut Galon Mengandung BPA Perlu Segera Dilabeli

BPOM Sebut Galon Mengandung BPA Perlu Segera Dilabeli

Whats New
Percepat Pembangunan Hunian ASN, Menteri PUPR Minta Tambahan Anggaran Rp 12,7 Triliun

Percepat Pembangunan Hunian ASN, Menteri PUPR Minta Tambahan Anggaran Rp 12,7 Triliun

Whats New
Kementan Dukung Pembangunan RJIT Sepanjang 155 Meter di Pariaman Timur

Kementan Dukung Pembangunan RJIT Sepanjang 155 Meter di Pariaman Timur

Whats New
Naik 5,6 Persen, UMP DKI Jakarta 2023 Jadi Rp 4,9 Juta

Naik 5,6 Persen, UMP DKI Jakarta 2023 Jadi Rp 4,9 Juta

Whats New
Mendag Minta UMKM Ikuti Tren Ekonomi Digital dan Ekonomi Hijau

Mendag Minta UMKM Ikuti Tren Ekonomi Digital dan Ekonomi Hijau

Whats New
Nilai Transaksi Uang Elektronik Tembus Rp 35,1 Triliun secara Bulanan

Nilai Transaksi Uang Elektronik Tembus Rp 35,1 Triliun secara Bulanan

Whats New
Kemendag Pastikan Kebijakan Rasio Hak Ekspor CPO Tidak Berubah

Kemendag Pastikan Kebijakan Rasio Hak Ekspor CPO Tidak Berubah

Whats New
Sukses Terapkan Prinsip Industri Hijau, Pupuk Kaltim Raih Penghargaan dari Kemenperin

Sukses Terapkan Prinsip Industri Hijau, Pupuk Kaltim Raih Penghargaan dari Kemenperin

Whats New
GoPay Jadi Dompet Digital dengan Pengguna Terbanyak, Ini Faktor Pendorongnya

GoPay Jadi Dompet Digital dengan Pengguna Terbanyak, Ini Faktor Pendorongnya

Whats New
IHSG Tumbuh 6,82 Persen, OJK: Masih Tertinggi di ASEAN

IHSG Tumbuh 6,82 Persen, OJK: Masih Tertinggi di ASEAN

Whats New
Digitalisasi Asuransi, Solusi Meningkatkan Penetrasi Asuransi Jiwa di Indonesia

Digitalisasi Asuransi, Solusi Meningkatkan Penetrasi Asuransi Jiwa di Indonesia

BrandzView
PLN Hanya Gunakan 57 Persen Dana PMN Tahun Ini

PLN Hanya Gunakan 57 Persen Dana PMN Tahun Ini

Whats New
Survei InsightAsia: 71 Persen Masyarakat Gunakan Dompet Digital, GoPay di Posisi Pertama

Survei InsightAsia: 71 Persen Masyarakat Gunakan Dompet Digital, GoPay di Posisi Pertama

Whats New
IHSG Ditutup di Zona Merah, GOTO, BUKA, dan MDKA Ambles Lebih dari 6 Persen

IHSG Ditutup di Zona Merah, GOTO, BUKA, dan MDKA Ambles Lebih dari 6 Persen

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.