CT: Tahun Politik, Investor Banyak yang "Wait and See"

Kompas.com - 03/12/2013, 11:37 WIB
Sikora alias Si Kotak Suara, maskot Pemilu 2014 KOMPAS.com/DEYTRI ROBBEKA ARITONANGSikora alias Si Kotak Suara, maskot Pemilu 2014
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung (CT) mengatakan, masih banyak investor yang wait and see untuk menanamkan modalnya pada tahun 2014. Hal itu, kata dia, merupakan tantangan ekonomi Indonesia pada tahun politik.

"Tahun ini adalah tahun politik. Masih banyak investor wait and see, menunggu apa yang akan terjadi (2014). Apakah pemilu berjalan baik, apakah pemilu berjalan aman, apakah berjalan tidak aman. Mereka menunggu dan menunggu realisasi yang akan dilakukan," kata CT pada sambutannya dalam forum KEN, di Jakarta, Selasa (3/12/2013).

Lebih lanjut, CT mengatakan, para pemodal juga menunggu apakah pemimpin terpilih tahun depan adalah pemimpin yang pro pasar, ataukah pemimpin yang fokus dan mengerti perekonomian dalam negeri. "Ini menjadi tanda tanya karena pengaruhnya ke decision. Kita juga melihat meski masih ada, namun melambatnya pertumbuhan investasi karena menunggu hal ini," jelasnya di hadapan forum yang juga dihadiri Dahlan Iskan.

Selain pemilu, dua tantangan ekonomi Indonesia pada tahun mendatang adalah perubahan lanskap perekonomian global, serta tingginya gap antara konsumsi domestik dan produksinya. CT menyebut ada perubahan peta perekonomian global. Negara maju yang pertumbuhan ekonominya relatif rendah pada akhir periode 2013 sudah mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. Sementara negara-negara berkembang justru terjadi proses perlambatan. Tentu, kata CT, hal ini berakibat pada perekonomian nasional.

"Pertama, AS ternyata pertumbuhan ekonominya lebih baik dari yang diperkirakan banyak orang. Sehingga tingkat pengangguran turun, di level 7,2 persen. Bahkan perkiraan kuartal I-2014 bisa di bawah 7 persen," jelas CT.

"Ini membuat kebijakan yang tadinya memberikan stimulus, sekarang ingin menarik stimulus. Terjadi arus balik keluar, dari negara emerging countries, termasuk dari Indonesia," sambungnya.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi China dan India melambat signifikan. China diperkirakan hanya tumbuh 7 persen, dari yang biasanya mencapai 10 persen. Sedangkan India diperkirakan hanya tumbuh 4,4 persen. "Ini akan ubah struktur ekspor kita karena terjadi penurunan demand harga komoditas, maka ekspor terganggu," ujarnya.

Tingginya konsumsi domestik yang tidak diimbangi dengan produksi dalam negeri juga menjadi tantangan ekonomi Indonesia. Seharusnya, lanjut CT, konsumsi besar bisa menggerakkan ekonomi jika dibarengi produksi. "Nyatanya peningkatan harus dibarengi impor. Pertanian kita harus impor daging dan kebutuhan lain. Akibatnya, defisit perdagangan, dan tentu dilanjutkan defisit neraca transaksi berjalan. Ini tak hanya pertanian, begitu juga industri dan migas," katanya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.