Kompas.com - 13/12/2013, 14:51 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - 
Standard & Poor's (S&P) harus gigit jari setelah rencana untuk mengakuisisi PT Peringkat Efek Indonesia (Pefindo) ditolak. Raksasa agen pemeringkat asal negeri Paman Sam ini dinilai tidak akan memberikan nilai tambah bagi bisnis Pefindo di masa mendatang.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, tidak menyebutkan secara eksplisit alasan penolakan itu. Namun, ia memastikan bahwa S&P tidak akan masuk menjadi pemegang saham Pefindo. "Masuknya S&P bisa meningkatkan daya saing, tapi ini kan urusannya dengan regulator juga," ujarnya kepada KONTAN beberapa waktu lalu.

Ito tidak menjelaskan regulator mana yang ia maksud. Tapi, Ito mengatakan, keputusan ini juga menjadi keinginan dari manajemen Pefindo sendiri. Dalam membuat keputusan strategis seperti itu, pemegang saham, kata Ito, tidak bisa memutuskan sendiri. "Yang berhubungan dengan high regulated (agency) tidak hanya menjadi keputusan pemegang saham," tuturnya.

Ketika dikonfirmasi, Ronald Tauviek Andi Kasim, Direktur Utama Pefindo menegaskan, keputusan tetap ada di pemegang saham. Manajemen Pefindo sendiri hanya bertindak sebagai fasilitator.

Sebenarnya, hingga saat ini, masih terjadi negosiasi antara S&P dan pemegang saham utama. "Saya tidak bisa informasikan saat ini, tapi yang pasti menyangkut hak dan kewajiban masing-masing pihak," jelas Ronald.

Lalu, sebenarnya di mana letak permasalahannnya? Sumber KONTAN membisikkan, yang menjadi dasar penolakan adalah karena masuknya S&P tidak akan serta merta membuat Pefindo bisa melakukan pemeringkatan atas efek milik perusahaan asing; khususnya yang berdomisili di luar Indonesia.

Tapi, di sisi lain, jika S&P menggenggam saham Pefindo, lembaga pemeringkat global ini akan turut merasakan manisnya bisnis pemeringkatan di Indonesia. "Apalagi mereka (S&P) inginnya (memiliki saham) mayoritas di Pefindo," kata sang sumber.

Hal ini yang ditengarai menjadi pokok permasalahan. Sekedar mengingatkan, akhir tahun lalu, manajemen Pefindo mengumumkan, S&P tertarik masuk untuk menggenggam saham Pefindo.

Ketika itu, Ronald mengungkapkan, sudah ada sejumlah pemegang saham yang bersedia melepas kepemilikannya. Jika tidak ada perubahan, pemegang saham utama Pefindo terdiri dari Dana Pensiun (DPBI) Bank Indonesia dan BEI. Masing-masing menguasai 25,5 persen dan 20 persen.

Adapun, total pemegang saham Pefindo terdiri dari 92 pemegang saham dari berbagai institusi. Pada 10 Desember 2013 kemarin, Pefindo menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Namun, Ronald mengaku, agenda RUPS bukan tentang S&P melainkan rencana pembentukan anak usaha baru. (Amailia Putri Hasniawati)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gudang Garam Tebar Dividen Senilai Rp 4,3 Triliun

Gudang Garam Tebar Dividen Senilai Rp 4,3 Triliun

Whats New
Kementan Gandeng BNPB dan PMI Luncurkan Gerakan Disinfeksi Nasional untuk Atasi PMK

Kementan Gandeng BNPB dan PMI Luncurkan Gerakan Disinfeksi Nasional untuk Atasi PMK

Rilis
Dicurhati Petani Harga TBS Sawit Masih Anjlok, Ini Respons Menteri Teten

Dicurhati Petani Harga TBS Sawit Masih Anjlok, Ini Respons Menteri Teten

Whats New
Apa itu Restrukturisasi Kredit, Syarat, dan Contohnya

Apa itu Restrukturisasi Kredit, Syarat, dan Contohnya

Spend Smart
Inflasi Juni 0,61 Persen, Dipicu Harga Cabai Merah hingga Rokok Kretek Filter

Inflasi Juni 0,61 Persen, Dipicu Harga Cabai Merah hingga Rokok Kretek Filter

Whats New
Ingin Investasi di 'Peer to Peer Lending'? Calon 'Lender' Harus Tahu Ini

Ingin Investasi di "Peer to Peer Lending"? Calon "Lender" Harus Tahu Ini

Earn Smart
Maskapai Minta Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Naik, YLKI: Sah Saja, asalkan Tak Melanggar

Maskapai Minta Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Naik, YLKI: Sah Saja, asalkan Tak Melanggar

Whats New
Antisipasi Biaya Pendidikan Anak Mahal, Ini yang Bisa Dilakukan Orangtua

Antisipasi Biaya Pendidikan Anak Mahal, Ini yang Bisa Dilakukan Orangtua

Spend Smart
Simak Harga Sembako di Jakarta Hari Ini

Simak Harga Sembako di Jakarta Hari Ini

Whats New
TikTok Perkenalkan Program 'Follow Me' untuk Dukung UMKM dalam Mengembangkan Komunitas dan Bisnis

TikTok Perkenalkan Program "Follow Me" untuk Dukung UMKM dalam Mengembangkan Komunitas dan Bisnis

Whats New
Kementerian PAN-RB: Bapak Tjahjo Kumolo Telah Dipanggil Allah SWT, Mohon Doanya...

Kementerian PAN-RB: Bapak Tjahjo Kumolo Telah Dipanggil Allah SWT, Mohon Doanya...

Whats New
Biar Tidak Ketinggalan Cuan, Simak Daftar Emiten yang Cum Dividen di Awal Juli Ini

Biar Tidak Ketinggalan Cuan, Simak Daftar Emiten yang Cum Dividen di Awal Juli Ini

Earn Smart
Rupiah dan IHSG Kompak Melemah di Sesi I Perdagangan

Rupiah dan IHSG Kompak Melemah di Sesi I Perdagangan

Whats New
PTPN Group Bangun Pabrik BioCNG Berbahan Baku Limbah Cair Kelapa Sawit

PTPN Group Bangun Pabrik BioCNG Berbahan Baku Limbah Cair Kelapa Sawit

Whats New
Wujukan Net Zero Operations, Sustainability Harus Jadi Prioritas Industri

Wujukan Net Zero Operations, Sustainability Harus Jadi Prioritas Industri

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.