Kompas.com - 18/12/2013, 19:24 WIB
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Kompas.com/SABRINA ASRILMenteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada 12 Januari 2014, UU Nomor 4 tahun 2009, tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (minerba), resmi diberlakukan. Dengan adanya ketentuan ini, perusahaan tambang harus sudah memiliki pemurnian bijih mineral (smelter) sendiri, dan tidak diperbolehkan mengekspor mineral mentah.

Akan tetapi, seiring dengan makin dekatnya implementasi aturan itu, dua perusahaan tambang, yaitu PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara merasa keberatan. Tak ayal, pemerintah mulai melunak.

Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, perusahaan tambang tak perlu khawatir akan aturan tersebut. Pasalnya, kata dia, mereka tidak perlu membangun smelter secara pribadi, dan bisa menggandeng pihak ketiga.

"Intinya smelter itu bisa dibikin sendiri, bisa bekerjasama. Yang penting (bijih mineral) diproses di dalam negeri," kata Hatta, di Jakarta, Rabu (18/12/2013).

Hatta mengatakan, perwakilan dari dua perusahaan tambang tadi menyampaikan dampak yang mungkin terjadi jika aturan minerba diberlakukan, seperti penurunan produksi dan PHK karyawan.

Ia juga mengatakan, kedua perusahaan sekiranya telah bekerjasama dengan perusahaan smelter, seperti PT Nusantara Smelting.

"Ya saya kira itu enggak ada jalan lain, kecuali dijalankan (aturan minerbanya). Mereka hanya bicara bahwa sudah bekerjasama dengan sebuah perusahaan smelter. Saya bilang silakan siapa saja (bisa bangun smelter), tidak harus Newmont, tidak harus Freeport, yang penting smelter itu ada," pungkasnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Rozik Boedioro Soetjipto mengklaim, perusahaan tambang yang berinduk di Amerika Serikat itu, tetap berkomitmen untuk mematuhi aturan minerba. Ia mengatakan, studi kelayakan baru akan selesai pada Januari 2014, pada bulan yang sama saat aturan minerba diberlakukan.

Sementara itu, Presiden Direktur PT NNT Martiono Hadianto menyebut, tidak efisien bagi NNT yang produksinya hanya sepertiganya Freeport membangun sendiri smelter-nya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.