Kompas.com - 31/12/2013, 15:15 WIB
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo memastikan open access hanyalah mekanisme menyuplai gas dari pihak suplier di hulu kepada hilir.

Dia menyebutkan kegiatan hulu dan hilir industri gas tetap berjalan seperti sediakala. Namun, ia juga yakin, dengan adanya open access, kebutuhan gas dalam negeri bisa dipenuhi dengan cepat, harga terjangkau, dan volume lebih besar.

"Kita maunya yang optimal untuk negara, kalau disebut monopoli itu kan juga tidak bagus. Makanya, DPR bersama kementerian dan stakeholder mencari yang paling baik," kata Susilo, di Jakarta, Selasa (31/12/2013).

Sebagai informasi kebijakan open access merupakan amanat UU Migas No 22/2001 dan Permen ESDM No 19/2009 tentang Kegiatan Gas Bumi Melalui Pipa. Ketentuan Permen ESDM tersebut mengamanatkan open access paling lambat sudah harus berjalan pada September 2011.

Namun, hingga kini belum berjalan lantaran adanya sentimen bahwa open access tersebut akan merugikan PT Perusahaan Gas Negara.

"UU No. 22/2001 ini kan sedang proses revisi, proses yang dijalankan di DPR dengan mengundang pakar-pakar, asosiasi, pelaku stakeholder itu sudah bagus tuh. Jadi adanya wacana itu, digoreng-goreng, digodok semua disana. Nanti, setelah selesai semua, dirapatkan secara paripurna. Pilihan terbaik tentu bedasarkan masukan," jelas Susilo.

Ditemui secara terpisah, Wakil Ketua Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Tri Widodo menegaskan, jika pemerintah ingin mengurangi monopoli PGN, bisa dilakukan dengan jalan lain, bukan open access.

Ia menilai, open access merupakan salah satu kebijakan liberalisasi transportasi dan perniagaan di sektor gas yang hanya mengerdilkan peran PGN. Asal tahu saja, open access ini mengijinkan trader non-infrastruktur ke dalam perniagaan gas, tanpa harus membangun jaringan pipa untuk distribusi gas dari hulu ke hilir hingga konsumen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.