Kompas.com - 05/01/2014, 12:38 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengaku tidak mengetahui rencana Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kilogram. Akan tetapi, menurut Hatta, Pertamina telah memberitahukan soal rencana itu kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.

"Pertamina itu bersifat pemberitahuan (ke pemerintah). Pak Wacik baru terima suratnya tanggal 2 Januari. Tapi itu (keputusan menaikkan Elpiji) kan melalui RUPS, artinya BUMN sudah tahu," ujar Hatta sebelum rapat terbatas di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Minggu (5/1/2014).

Sementara itu, ketika dikonfirmasi terkait Menteri BUMN Dahlan Iskan yang tidak melapor kepada Presiden, Hatta tidak mau mengomentarinya.

"Jangan ke sana kemari. Itu sekarang kan aksi korporasi dan ini akan sedang dibahas. Sampai di situ saja dulu," katanya.

Menurut Hatta, setelah mengetahui harga elpiji naik, dia langsung menghubungi pimpinan Pertamina dan meminta agar menunda kenaikan harga.

"Tapi mereka bilang tidak bisa karena ini keputusan RUPS," ujar Hatta.

Hatta kembali menjelaskan alasan penolakan pemerintah terhadap kenaikan harga elpiji karena momentum yang dianggap tidak tepat. Momentum tahun baru dan masih rendahnya daya beli masyarakat seharusnya menjadi pertimbangan Pertamina untuk tak menaikkan harga elpiji.

Apa solusi yang ditawarkan pemerintah mengingat Pertamina mengklaim terus merugi dalam bisnis penjualan gas 12 kilogram?

"Nanti, nanti. Ini yang akan dibahas," katanya.

Naik 68 persen

Seperti diberitakan, harga gas elpiji 12 kilogram mengalami kenaikan pada 1 Januari ini. Di Jakarta, gas elpiji 12 kilogram yang sebelumnya seharga Rp 78.000 melonjak drastis menjadi Rp 138.000. Kenaikan mencapai 68 persen. Akibatnya, beberapa masyarakat beralih ke tabung gas elpiji 3 kilogram yang disubdisi pemerintah. Banyaknya masyarakat yang beralih ini membuat tabung gas elpiji 3 kilogram semakin sulit ditemukan di pasar.

Pertamina berdalih pihaknya terpaksa menaikkan harga elpiji 12 kilogram sebagai akibat dari bisnis yang terus merugi. Untuk tahun 2013 saja, Pertamina mengklaim merugi sampai sekitar Rp 7 triliun. Kerugian ini ditemukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang akhirnya ditindaklanjuti Pertamina dengan menaikan harga gas non-subsidi tersebut.

Di sisi lain, Pertamina mengungkapkan kondisi bahan baku elpiji di pasaran sudah mencapai Rp 10.700 per kilogram. Beban Pertamina semakin bertambah saat kurs dollar semakin menekan nilai tukar rupiah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.