Kompas.com - 05/01/2014, 17:06 WIB
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah melakukan rapat terbatas selama tiga jam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar Pertamina mengkaji ulang kenaikan harga gas elpiji 12 kilogram. Pertamina dan menteri-menteri terkait diminta untuk melakukan rapat konsultasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Sebagai pemegang saham Pertamina, pemerintah mendorong agar Pertamina melakukan peninjauan kembali atas kenaikan harga itu. Proses peninjauan kembali kebijakan elpiji saya harapkan tetap melalui prosedur dan mekanisme yang diatur undang-undang," ujar Presiden SBY saat menyampaikan keterangan pers di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Minggu (5/1/2014).

Pertamina diberi waktu 1x24 jam untuk melakukan peninjauan ulang itu bersama menteri terkait. Presiden juga mengundang BPK untuk melakukan konsultasi dengan pemerintah dan Pertamina agar solusi dan tindakan terkait Pertamina tetap sesuai dengan hasil audit dan rekomendasi BPK.

"Saya harap konsultasi bs dilakukan besok pagi, tanggal 6 Januari 2014. Jadi harapan saya, konsultasi rampung dilaksanakan besok pagi," kata Presiden.

Sebelumnya, Presiden sempat menyinggung bahwa soal kebijakan harga elpiji 12 kilogram sudah menjadi domain Pertamina sebagai pihak korporat. Namun, Presiden menyatakan bahwa pemerintah punya kewajiban untuk meninjau secara menyeluruh karena kenaikan harga elpiji 12 kilogram bisa menimbulkan dampak sosial ekonomi.

Kepala Negara mengatakan, pemerintah berharap Pertamina dan negara tidak terus-menerus dirugikan, apalagi dengan jumlah besar. Namun, ia meminta penyesuaian dan kenaikan harga dilakukan dengan pertimbangan kemampuan dan daya beli masyarakat serta tidak menjadi beban bagi masyarakat.

Harga gas elpiji 12 kilogram mengalami kenaikan pada 1 Januari 2014. Di Jakarta, gas elpiji 12 kilogram yang sebelumnya seharga Rp 78.000 melonjak drastis menjadi Rp 138.000. Kenaikan ini mencapai 68 persen. Akibatnya, beberapa masyarakat beralih ke tabung gas elpiji 3 kilogram yang disubdisi pemerintah. Banyaknya masyarakat yang beralih ini membuat tabung gas elpiji 3 kilogram semakin sulit ditemukan di pasar.

Pertamina berdalih terpaksa menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram sebagai akibat dari bisnis yang terus merugi. Untuk tahun 2013 saja, Pertamina mengklaim kerugian hingga sekitar Rp 7 triliun. Kerugian ini ditemukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang akhirnya ditindaklanjuti Pertamina dengan menaikkan harga gas non-subsidi tersebut.

Di sisi lain, Pertamina mengungkapkan bahwa kondisi bahan baku elpiji di pasaran sudah mencapai Rp 10.700 per kilogram. Beban Pertamina semakin bertambah saat kurs dollar semakin menekan nilai tukar rupiah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.