Wamenkeu: Impor Elpiji Masih Tinggi karena Tak Ada Bahannya di Indonesia

Kompas.com - 07/01/2014, 20:57 WIB
Buruh menata tabung elpiji ukuran 12 kilogram di kapal yang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa (23/4/2013). Pertamina membatalkan kenaikan harga elpiji yang awalnya direncanakan per 22 April. Pembatalan tersebut dikarenakan pemerintah kini lebih fokus mengenai masalah pengendalian Bahan Bakar Minyak subsidi. KOMPAS/HERU SRI KUMOROBuruh menata tabung elpiji ukuran 12 kilogram di kapal yang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa (23/4/2013). Pertamina membatalkan kenaikan harga elpiji yang awalnya direncanakan per 22 April. Pembatalan tersebut dikarenakan pemerintah kini lebih fokus mengenai masalah pengendalian Bahan Bakar Minyak subsidi.
|
EditorLaksono Hari Wiwoho
JAKARTA, KOMPAS.com– Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebutkan, Indonesia masih perlu banyak impor untuk mencukupi kebutuhan elpiji dalam negeri. Saat ini 53 persen kebutuhan elpiji domestik didatangkan dari luar negeri.

Bambang menyebutkan, liquid petroleum gass atau elpiji berbeda dari liqud natural gass (LNG). Elpiji merupakan produk sampingan dari tambang minyak sehingga jumlahnya tidak sebesar LNG yang dihasilkan, misalnya di Arun dan Tangguh. Adapun untuk elpiji, bahannya masih diimpor. "Karena, elpiji ini memang tidak ada bahannya di Indonesia," ujar Bambang, Selasa (7/1/2014) di Jakarta.

Sepanjang 2013, pemerintah telah menganggarkan subsidi elpiji tabung 3 kilogram sebesar Rp 30 triliun. Meski demikian, berdasarkan keterangan Direktur Jenderal Anggaran Askolani, tagihan yang harus dibayar pemerintah nyatanya lebih tinggi, yakni sebesar Rp 40 triliun. Penyebabnya kurs rupiah melemah.

Menurut Bambang, kondisi ini masih jauh lebih baik dibandingkan sebelum konversi minyak tanah ke gas. "Bayangkan kalau masih pakai minyak tanah. Di satu sisi masih impor. Kedua, butuh subsidi lebih besar karena enggak mungkin kasih harga tinggi, karena (minyak tanah) untuk rakyat kecil kan," ujarnya.

Untuk 2014, Bambang memperkirakan subsidi elpiji masih sama dengan tahun lalu, yakni di kisaran Rp 30 triliun hingga Rp 40 triliun. Ia menyangsikan kenaikan harga elpiji nonsubsisi 12 kilogram akan membuat konsumen beralih menyerbu elpiji subsidi tabung melon. Hal itu dikarenakan kenaikan harga elpiji 12 kg tidak terlalu besar.

"Kalau harga naik Rp 1.000 per kilogram, saya perkirakan migrasi kecil sekali, sama seperti pertamax ke premium," kata Bambang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.