Yusril Ihza: Asian Agri Belum Pernah Diadili, tetapi Sudah Dihukum

Kompas.com - 30/01/2014, 15:11 WIB
Karyawan memeriksa kandang burung hantu di kebun inti kelapa sawit milik Asian Agri, di Kabupaten Siak, Riau, beberapa waktu lalu. RODERICK ADRIAN MOZESKaryawan memeriksa kandang burung hantu di kebun inti kelapa sawit milik Asian Agri, di Kabupaten Siak, Riau, beberapa waktu lalu.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com — Penasihat hukum Asian Agri Group, Yusril Ihza Mahendra, mengatakan, masalah pajak Asian Agri tidak semata-mata masalah putusan kasasi Mahkamah Agung (MA).

Masalah itu kini tengah diperkarakan di pengadilan pajak dan belum usai. Ia pun mempertanyakan putusan kasasi MA No.2239K/PID.SUS/2012 tanggal 18 Desember 2012, lantaran di dalamnya Asian Agri disebut harus membayar denda sebesar dua kali pajak terutang, senilai Rp 2,5 triliun. Padahal, pengadilan pajak saja belum memutuskan berapa kurang bayar pajak oleh Asian Agri.

"Sampai hari ini berapa jumlah kurang bayar pajak Asian Agri belum diputuskan. Mahkamah Agung dalam putusannya menghukum Suwir Laut dan menghukum Asian Agri 2 kali pajak terutang. Sementara, pajak terutangnya belum diputuskan pengadilan pajak," kata Yusril, di Jakarta, Kamis (30/1/2014).

Lantas, jika belum ketahuan berapa sebenarnya kurang pajak bayarnya, kenapa Asian Agri mau membayar hukuman denda? Yusril mengatakan, ini disebabkan Asian Agri menghormati putusan pengadilan, serta kejaksaan sebagai institusi yang bertugas mengeksekusi putusan pengadilan.

Salah atau benar, ujar Yusril, putusan tersebut harus dipatuhi Asian Agri. Setelah itu, Asian Agri berhak melakukan upaya hukum biasa dan upaya hukum luar biasa.

"Saya tidak bisa berdebat dari mana munculnya Rp 1,25 triliun. Dan pengadilan Suwir Laut tidak bisa membahas itu. Kalau berdebat itu tidak akan selesai," terang Yusril.

Sementara itu, kalaupun akhirnya kurang bayar pajak Asian Agri yang diputus pengadilan pajak ternyata kurang dari Rp 1,25 triliun, Yusril pun hanya mempertanyakan, "Maka apa yang terjadi di Republik ini? Ada dua pengadilan memutuskan satu hal dengan dua keputusan yang berbeda," tukas Yusril.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.