Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengamat: Penyatuan Kode HS, Celah Permainan Importir Beras

Kompas.com - 01/02/2014, 15:06 WIB
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat pertanian Khudori menilai penyatuan kode harmonized system (HS) bisa menjadi celah para importir nakal untuk mendatangkan beras tidak sesuai Surat Persetujuan Impor (SPI) yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan.

Kewenangan menetapkan kode HS ini ada pada Menteri Keuangan. Dalam diskusi bertajuk 'Main Kotor Beras Impor', di Jakarta, Sabtu (1/2/2014), anggota Kelompok Kerja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat itu menuturkan, kode HS untuk komoditas beras disatukan. Padahal sebelumnya, pada 2007 kode HS untuk beras, terpisah.

"Kesulitan itu karena Bea Cukai tidak memeriksa fisik. Ini membuka peluang importir bermain-main. Kode HS ini yang mengeluarkan Menkeu," jelasnya.

Otoritas bea cukai tidak memeriksa fisik beras impor lantaran komoditas tersebut dimasukkan dalam kategori komoditas low risk. Demikian pula dalam ketentuan Peraturan Menteri Perdagangan No.12 tahun 2008, di mana hanya Perum Bulog yang diperbolehkan mengimpor beras jenis medium. Padahal, sepanjang 2013 lalu Bulog mengklaim tidak melakukan importasi beras medium disebabkan produksi dalam negeri mengalami surplus.

"Kalau beras-beras itu didatangkan oleh importir swasta, sementara Bulog bilang enggak impor, maka harus ditelusuri," ucapnya.

Sekjen Asosiasi Pedagangan Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran menyebut, sebenarnya tidak begitu susah bagi pemerintah untuk melakukan investigasi kisruh beras impor medium asal Vietnam. Penyelidikan juga bisa mengungkap apakah ada permainan kartel dalam beras.

"Perizinan ditelusuri siapa yang mengeluarkan izin, siapa yang menerima. Dan barangnya pun masih ada, bukan wacana. Jadi tidak ada susahnya untuk menyelidiki," terang Ngadiran.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+