Kompas.com - 11/02/2014, 17:04 WIB
Suasana pembangunan gedung-gedung pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/4/2013).BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III di level 5,62 persen KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNASuasana pembangunan gedung-gedung pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/4/2013).BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III di level 5,62 persen
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com
- Managing Director Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan mengatakan, investor dan pengusaha menyukai pemimpin yang ramah terhadap pasar dan investasi (market friendly).

Fauzi mengatakan, karakteristik pertama pemimpin yang market friendly adalah seorang pemimpin yang mampu mengimplementasikan janji-janjinya. Ia memberi contoh masih sangat rendahnya implementasi proyek infrastruktur yang diusung pemerintah sejak tahun 2005.

"Investor melihat implementasi sangat penting di Indonesia. Selama 7 sampai 8 tahun terakhir banyak janji-janji yang belum terealisasi, contohnya infrastructure summit tahun 2005. Proyek senilai 150 miliar dollar AS digelar untuk 5 tahun berikutnya tapi sampai sekarang realisasinya di bawah 10 persen, tentunya ada proyek MP3EI," kata Fauzi di Jakarta, Selasa (11/2/2014).

Karakteristik kedua adalah pemimpin yang dapat menarik investasi asing ke dalam negeri. Dana investasi asing tersebut, kata Fauzi, berguna untuk membiayai defisit transaksi berjalan Indonesia.

"Indonesia kan memiliki defisit transaksi berjalan yang besar. Tahun lalu diperkirakan 32 miliar dollar AS. Negara yang memiliki defisit transaksi berjalan harus membiayai defisit. Pembiayaan defisit tersebut kan modal asing, apakah FDI (Foreign Direct Investment), foreign equity investment, atau utang," papar Fauzi.

Negara manapun yang memiliki defisit transaksi berjalan besar tidak bisa mengeluarkan kebijakan yang sifatnya proteksionis maupun nasionalis karena membutuhkan dana asing. Oleh karena itu, pemimpin yang market friendly berarti dapat menarik dana asing untuk membiayai defisit transaksi berjalan.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

IPO NETV, Karyawan Dapat 2,91 Persen Saham, Apa Manfaatnya?

IPO NETV, Karyawan Dapat 2,91 Persen Saham, Apa Manfaatnya?

Whats New
Anggarkan Capex Rp 247 Miliar, DRMA Bidik Pertumbuhan Double Digit pada 2022

Anggarkan Capex Rp 247 Miliar, DRMA Bidik Pertumbuhan Double Digit pada 2022

Rilis
Janji Pemerintah Jokowi Bangun Ibu Kota Baru: Hindari Utang dan Tidak Bebani APBN

Janji Pemerintah Jokowi Bangun Ibu Kota Baru: Hindari Utang dan Tidak Bebani APBN

Whats New
Bawang Putih dan Cabai Rawit Merah Naik, Berikut Harga Pangan Jakarta Hari Ini

Bawang Putih dan Cabai Rawit Merah Naik, Berikut Harga Pangan Jakarta Hari Ini

Whats New
Smelter Timbal ZINC Mulai Uji Coba Produksi

Smelter Timbal ZINC Mulai Uji Coba Produksi

Rilis
NETV Resmi Melantai di BEI, Bakal Kembangkan Pemanfaatan Metaverse

NETV Resmi Melantai di BEI, Bakal Kembangkan Pemanfaatan Metaverse

Whats New
Bangun IKN Baru Berpotensi Bikin Utang RI Bengkak, Baiknya Ditunda atau Jalan Terus?

Bangun IKN Baru Berpotensi Bikin Utang RI Bengkak, Baiknya Ditunda atau Jalan Terus?

Whats New
Laba Bersih BNI 2021 Naik 3 Kali Lipat Jadi Rp 10,89 Triliun

Laba Bersih BNI 2021 Naik 3 Kali Lipat Jadi Rp 10,89 Triliun

Whats New
Basuki Minta Rp 46 Triliun ke Sri Mulyani untuk Bangun Ibu Kota Baru

Basuki Minta Rp 46 Triliun ke Sri Mulyani untuk Bangun Ibu Kota Baru

Whats New
Afiliator Binary Option Ilegal, Transaksinya Dilarang

Afiliator Binary Option Ilegal, Transaksinya Dilarang

Whats New
Sering Dianggap Mata Uang Islam, dari Mana Asal Dinar dan Dirham?

Sering Dianggap Mata Uang Islam, dari Mana Asal Dinar dan Dirham?

Whats New
Intip Besarnya Tambahan Penghasilan Kepala Dinas di DKI Jakarta

Intip Besarnya Tambahan Penghasilan Kepala Dinas di DKI Jakarta

Whats New
Sudah 7.416 Wajib Pajak Ikut Tax Amnesty Jilid II, Pelaporan Harta Tembus  Rp 6,03 Triliun

Sudah 7.416 Wajib Pajak Ikut Tax Amnesty Jilid II, Pelaporan Harta Tembus Rp 6,03 Triliun

Whats New
Sinar Mas Mining Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1, Ini Posisi dan Syaratnya

Sinar Mas Mining Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1, Ini Posisi dan Syaratnya

Work Smart
Sebelum Tukar Dollar AS, Cek Kurs Rupiah di BNI, BRI, BCA, CIMB Niaga, dan Bank Mandiri

Sebelum Tukar Dollar AS, Cek Kurs Rupiah di BNI, BRI, BCA, CIMB Niaga, dan Bank Mandiri

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.