Kompas.com - 28/02/2014, 15:08 WIB
Petugas bersiap mengisi bahan bakar gas ke armada bajaj dari Mobile Refueling Unit (MRU) yang diresmikan penggunaannya oleh  Dirut Perusahaan Gas Negara, Hendi Prio Santoso dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik, di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Minggu (19/5/2013). Pengoperasian fasilitas pengisian bahan bakar gas bergerak ini untuk menyiasati kendala pembangunan SPBG  yaitu ketersediaan lahan. KOMPAS/WISNU WIDIANTOROPetugas bersiap mengisi bahan bakar gas ke armada bajaj dari Mobile Refueling Unit (MRU) yang diresmikan penggunaannya oleh Dirut Perusahaan Gas Negara, Hendi Prio Santoso dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik, di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Minggu (19/5/2013). Pengoperasian fasilitas pengisian bahan bakar gas bergerak ini untuk menyiasati kendala pembangunan SPBG yaitu ketersediaan lahan.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengakui Indonesia memiliki banyak sumber daya alam gas, namun belum termanfaatkan karena minimnya infrastruktur.

“Rencana diversifikasi BBM (bahan bakar minyak) ke gas tidak ada yang berubah, cuma kita telat membangun infrastrukturnya,” kata Hatta di Jakarta, Jumat (28/2/2014).

Salah satu instrumen untuk memuluskan program konversi BBM ke gas adalah melalui pengadaan converter kit. Namun, disayangkan oleh Hatta, pengadaan converter kit hingga saat ini belum berjalan optimal.

“Tahun kemarin kita terlambat pengadaan converter kit. Dan perlu dicatat, converter kit ini tidak boleh pakai APBN. Harus ada insentif untuk gas yang lebih murah dari subsidi BBM. Pun demikian, BBM yang bersubsidi ini juga harus lebih murah,” terang Hatta.

Ditemui di lokasi sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik mengatakan, seiring bertumbuhnya buss rapid transit (BRT) seperti Transjakarta, hal ini akan mendorong penggunaan gas secara masif. Ia pun sepakat dengan pendapat Hatta bahwa penggunaan BBM harus dikurangi, karena harganya yang rentan fluktuasi global dan impor.

“Penggunaan gas harus ditambah, karena kita punya banyak dan dia tidak mencemari lingkungan. Tapi gas ini tidak seperti minyak mengangkutnya. Infrastruktur inilah yang perlu kita siapkan. Kita sudah banyak way out tadi dari Pertamina dan PGN,” kata Jero.

Hingga akhir tahun ini PT Pertamina (Persero) dan PT PGN akan membangun 69 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di seluruh Indonesia. Kementerian ESDM mencatat, sampai dengan saat ini baru 12 unit SPBG yang beroperasi, dan 11 unit SPBG yang siap tetapi tidak beroperasi. Dari 45 SPBG yang direncanakan tahun 2013, hanya jalan 8 SPBG.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.