Hatta: Soal Freeport, Kalau Tak Mendesak Biar Pemerintah Baru yang Putuskan

Kompas.com - 11/04/2014, 16:53 WIB
Pemandangan di pertambangan emas-tembaga PT Freeport Indonesia yang merupakan investasi Amerika Serikat. Indonesia hanya menerima satu persen dari bagi hasil pertambangan di lokasi yang menghasilkan sekurangnya 300 kilogram emas setiap hari. Pada 25 tahun pertama beroperasi, Republik Indonesia tidak menerima bagi hasil dari penambangan emas. KOMPAS/IWAN SANTOSAPemandangan di pertambangan emas-tembaga PT Freeport Indonesia yang merupakan investasi Amerika Serikat. Indonesia hanya menerima satu persen dari bagi hasil pertambangan di lokasi yang menghasilkan sekurangnya 300 kilogram emas setiap hari. Pada 25 tahun pertama beroperasi, Republik Indonesia tidak menerima bagi hasil dari penambangan emas.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com
– Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan, kontrak perusahaan tambah asal Amerika Serikat, PT Freeport Indonesia belum diperpanjang hingga 2041. Saat ini pemerintah terus membahas proses renegosiasi.

“Jadi, keliru yang mengatakan bahwa renegosiasi ini tidak dituntaskan atau dilimpahkan ke pemerintah baru. Kalau misal satu pekerjaan baru akan selesai 2020 misalkan, kalau tidak mendesak biarlah pemerintah baru memikirkan itu,” ujar Hatta di kantornya, Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Namun demikian, Hatta kembali menambahkan, jika ada yang harus dituntaskan sebelum masa pemerintahan Kabinet Indonesia Jilid II berakhir, maka pemerintah pun tidak akan menundanya. Seperti renegosiasi ini misalnya, di mana Kementerian ESDM sendiri menargetkan renegosiasi kontrak rampung April 2014.

“Karena kita ingin, keadaan pemerintahan baru itu, enak pekerjaannya,” sambung Hatta.

Sebelumnya Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Rozik B Soetjipto seperti dikutip Harian Kompas, Kamis (10/4/2014), mengatakan, renegosiasi kontrak karya terus berjalan. ”Tetapi, fokus saat ini adalah membicarakan penerbitan izin ekspor agar kami bisa kembali beroperasi normal,” ujarnya.

Rozik menyebutkan, kegiatan ekspor konsentrat Freeport Indonesia telah berhenti hampir tiga bulan. Jika hal itu berlanjut, kegiatan operasi akan berhenti total dan dikhawatirkan menimbulkan dampak negatif, termasuk pengurangan tenaga kerja.

Terkait renegosiasi kontrak, pihaknya menyepakati sebagian isu strategis, termasuk kenaikan royalti. Namun, pembahasan kewajiban divestasi belum tuntas, yakni porsi saham dan kapan akan dijual kepada peserta Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelum menuntaskan renegosiasi kontrak, pihaknya minta kepastian perpanjangan kontrak yang akan berakhir tahun 2021 karena itu memengaruhi divestasi, pengembalian investasi fasilitas pemurnian mineral.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral R Sukhyar menyatakan, renegosiasi kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara hampir tuntas.

Mayoritas isu strategis dalam pembahasan amandemen kontrak disepakati, sehingga pemerintah optimistis renegosiasi kontrak selesai April 2014.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.