PLN: 2022 Tak Ada Lagi Daerah Gelap di Indonesia Asalkan...

Kompas.com - 12/04/2014, 09:48 WIB
Ilustrasi. Pekerja membersihkan jaringan listrik PLN yang terkena dampak letusan Gunung Merapi di wilayah Kecamatan Manisrenggo dan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (11/11/2010). Sekitar 15 trafo di Desa Balerante rusak parah dan harus diganti karena terkena hembusan awan panas yang menyebabkan sambungan ke 1.500 pelanggan terputus. Perbaikan masih terkendala lokasi bencana yang belum bisa dimasuki karena masih berbahaya. KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Ilustrasi. Pekerja membersihkan jaringan listrik PLN yang terkena dampak letusan Gunung Merapi di wilayah Kecamatan Manisrenggo dan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (11/11/2010). Sekitar 15 trafo di Desa Balerante rusak parah dan harus diganti karena terkena hembusan awan panas yang menyebabkan sambungan ke 1.500 pelanggan terputus. Perbaikan masih terkendala lokasi bencana yang belum bisa dimasuki karena masih berbahaya.
|
EditorPalupi Annisa Auliani

JAKARTA, KOMPAS.com - PT PLN menargetkan pada 2022 seluruh pelosok tanah air, termasuk daerah pedalaman, wilayah terpencil, bahkan pulau-pulau terluar, telah teraliri listrik. Dua tantangan menghadang.

"(Namun), untuk mencapai target itu setiap tahun perlu tambahan pembangkit 5.700 mega Watt," ungkap Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto, ketika ditemui di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Ada dua tantangan yang harus dihadapi PLN. "Pertama, kondisi geografis Indonesia yang berpulau. Mau menanam tiang saja susah. Jalan setapak tidak ada," kata Bambang. Kesulitan ini tak hanya dijumpai di luar Pula Jawa, kata Bambang, sembari menyebutkan di Pacitan di Jawa Timur masih ada satu atau dua rumah saja berlokasi di balik sebuah bukit.

"Kedua, soal pendanaan. Perlu tambahan 5.700 MW, itu berapa dana. Belum jaringan transmisi, belum gardu. Untuk mencapai target 2022, perlu dana Rp 70-80 triliun per tahun, untuk investasinya saja. Kalau operasinya Rp 230 miliar per tahun," sebut dia.

Kondisi sekarang

Saat ini total kapasitas seluruh pembangkit listrik PLN mencapai 36.000 mega Watt. Itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik dari 54 juta pelanggan. Harga jual yang dipatok PLN sekarang adalah Rp 930 per kilo Watt per jam (KWH), sudah memasukkan subsidi ke dalamnya.

Bambang menyebutkan kebutuhan listrik nasional rata-rata tumbuh 9 hingga 10 persen per tahun. Khusus Pulau Jawa dan Bali yang mayoritas sudah mendapatkan aliran listrik, rata-rata pertumbuhan kebutuhan listriknya berkisara 7,5 persen. Sebaliknya, kawasan Indonesia Timur yang masih minim listrik, mencatatkan pertumbuhan kebutuhan hingga 15 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tiga bulan pertama ini pertumbuhan kebutuhan listrik nasional 9 persen dibanding tiga bulan pertama 2013," sebut Bambang. Pada dua bulan pertama 2014, ujar dia, konsumsi listrik tercatat mencapai 32.000 giga Watt per jam (GWH), naik dibandingkan periode yang sama pada 2013 yang mencapai 29.500 GWH. Dia mengatakan konsumsi dua bulan dan tiga bulan tak terpaut jauh.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.