Wamenkeu: Newmont Keras Kepala, Kenapa Harus Dipikirin?

Kompas.com - 09/05/2014, 15:35 WIB
Wamenkeu Bambang PS Brodjonegoro Fransiskus Simbolon/KONTANWamenkeu Bambang PS Brodjonegoro
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemerintah tidak akan mengindahkan gertakan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang berencana memangkas kapasitas produksi dan merumahkan 6.400 karyawan. Menurutnya, sikap ini layak ditunjukkan pemerintah, karena selama lima tahun sejak UU minerba disahkan, Newmont juga tidak menunjukkan itikad baik mematuhi.

"Kenapa mereka repot begitu, karena dari dulu, dari lima tahun yang lalu mereka keras kepala, enggak mau mikirin bangun smelter atau mendorong pihak lain bangun smelter, kenapa sekarang kita harus pusing mikirin mereka begitu," tegas Bambang ditemui di Kantor Kemenkeu, Jumat (9/5/2014).

"Ya sekarang mereka ikut aturan begitu saja sudah," kata dia lagi.

Bambang juga mengatakan, perlindungan terhadap karyawan Newmont yang terancam PHK adalah tanggungjawab dari Newmont sendiri, karena tidak mempersiapkan diri jelang impementasi UU Minerba 2014.

"Ya itu (karyawan) harus mereka pikirin juga, itu kan salah mereka juga, bukan salah pemerintah. Kenapa mereka tidak ikutin aturan," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, nasib 6.400 karyawan PT Newmont Nusa Tenggara, terancam, setelah Direktur Utama, Martiono Hadianto, mengeluarkan pernyataan resmi bakal memangkas kapasitas produksi, lantaran perseroan tidak bisa mengikuti implementasi UU Minerba.

Martiono lewat siaran pers, Rabu (7/5/2014) menyatakan, per Juni depan bakal merumahkan 80 persen atau 6.400 orang dari total 8.000 karyawan yang bergelut di operasi produksi areal tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat. Alasannya, kapasitas gudang penyimpanan 40.000 ton mineral olahan tanpa pemurnian (konsentrat) tembaga sudah penuh.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penuhnya kondisi gudang penyimpanan disebutnyam akibat efek domino dari kegiatan ekspor perusahaan yang harus terhenti. Hal itu terjadi lantaran sejak Januari lalu, pemerintah melalui Kementerian Sumber Daya Mineral (ESDM) melarang perusahaan tambang seperti Newmont Nusa Tenggara mengekspor konsentrat. Sehingga, perusahaan ini memilih mengurangi kegiatan operasi penambangan dahulu.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.