Mengapa Manajemen "Blusukan" Menjadi Populer tetapi Disambut Sinis?

Kompas.com - 30/05/2014, 13:55 WIB
Rhenald Kasali KOMPAS IMAGESRhenald Kasali
EditorBambang Priyo Jatmiko

                                Rhenald Kasali
                              @Rhenald_Kasali

Terinspirasi oleh berita-berita mengenai Jokowi, setahun belakangan ini banyak CEO yang memberi instruksi agar para manajer tidak asyik memimpin dari balik mejanya saja. Istilah blusukan seperti merasuk ke semua lini corporate leadership. Namun, mengapa di panggung politik, hal ini jadi gunjingan negatif?

Seorang pengusaha ritel dan properti malah membawa isu blusukan dan rapat pimpinan nasionalnya. Dengan blusukan, ia mengaku mendapatkan banyak insight mengenai hambatan-hambatan di lini bawah.

Di dunia internasional, dua tahun lalu, CEO Randall House, Ron Hunter, dalam presidential letter-nya  mengutip anjuran Tom Peter yang bukunya menjadi New York Times Best Seller, In Search of Excellence. Di situ Tom Peter memperkenalkan istilah MWBA: management by walking around. Apa lagi bahasa Indonesianya ya kalau bukan blusukan?

Karena itu pulalah, salah satu program TV dari CBS yang sangat menyentuh diberi judul Undercover Boss. Persis seperti Jokowi atau Ahok yang menegur kepala-kepala daerahnya, di situ ditunjukkan keberpihakan para bos terhadap “rakyat kecil” yang telah bekerja keras untuk perusahaan.

Program TV Undercover Boss belakangan juga ditiru di banyak negara, menggambarkan bagaimana para CEO turun sendiri ke bawah. Di CBS sendiri, acara ini sudah dibuat dalam lebih dari 60 episode (ratingnya 5,6-6,5/10), mulai dari bidang pengolahan sampah, hamburger, sampai American Online (AOL).

Going undercover gives you the chance to really connect with your worker,” ujar CEO AOL.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Soeharto, Sumarlin, dan Gus Dur

Dulu, pada eranya, Pak Harto juga sesekali melakukan blusukan. Karena hanya ada TVRI, maka “turba” (istilahnya waktu itu "turun ke bawah") tidak banyak diikuti wartawan.

Dalam buku Pak Harto: The Untold Stories (Gramedia, Pustaka Utama, 2011) misalnya, bisa dibaca kisah blusukan-nya mengatasi penyakit kelaparan (HO) di Gunung Kidul (1972). Pada masa itu, pejabat-pejabat tinggi terbiasa membuat laporan ABS (asal bapak senang). "Tak ada HO, yang ada hanya KKM, kemungkinan kurang makan," begitulah laporan pejabat.

Halaman:
Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.