45 Persen Anggaran Subsidi BBM Bisa Hilangkan 20 Juta Rakyat Miskin

Kompas.com - 06/06/2014, 15:16 WIB
Ilustrasi KOMPAS/PRIYOMBODOIlustrasi
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - CEO PT Sugih Energy Andhika Bagoes Hermanto, mengatakan, setidaknya hanya dibutuhkan Rp 90 triliun untuk menghilangkan 20 juta rakyat miskin.

"Anggaran Rp 90 triliun atau sebesar 45 persen dari subsidi BBM, negara tidak ada rakyat miskinnya," kata Bagoes dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (6/6/2014).

Angka tersebut adalah asumsi dari perhitungan Badan Pusat Statistik, yang menyatakan dibutuhkan setidaknya Rp 280.000 subsidi langsung untuk rakyat miskin. Dia bilang, saat ini jumlah rakyat miskin sekitar 11,6 persen dari populasi.

Di sisi lain, subsidi bahan bakar minyak yang hampir menyentuh Rp 300 triliun, lebih banyak dinikmati oleh masyarakat yang tidak miskin.

Realokasi anggaran subsidi bahan bakar minyak, lanjut Bagoes, tidak hanya bisa mengurangi angka kemiskinan, namun juga membangun infrastruktur.

"Bangun tol dari Aceh ke Sumatera Rp 200 triliun, itu cukup. Rakyat miskin di indonesia tidak ada, infrastruktur dibangun," ujarnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.