Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah Barang Tak Berkualitas, Barang Impor Harus Mempunyai SNI

Kompas.com - 10/06/2014, 08:39 WIB
Kontributor Semarang, Nazar Nurdin

Penulis


SEMARANG, KOMPAS.com - Laju impor barang ke wilayah pabean Indonesia menghadapi pasar bebas ASEAN dipastikan akan membludak. Jika hal tersebut tak diantisipasi, tentu barang-barang lokal dari warga akan tak gulung tikar.

Pejabat Sementara Direktur PT Sucofindo, Surfin Hannan mengatakan, pemerintah perlu mengeluarkan aturan produk impor berstatus Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal itu, kata Suffin, diperlukan agar barang yang masuk ke Indonesia benar-benar berkualitas.

“Sementara ini, tidak ada aturan yang jelas, standar yang terukur. Semestinya ada aturan soal SNI bagi produk impor. Jika tidak, barang-barang dengan kualitas rendah dengan harga murah bisa masuk seenaknya saja, dan itu merusak pangsa pasar domestik,” kata Surfin, Senin (9/6/2014) di Semarang.

Ia mengatakan, kualitas barang impor harus di atas rata-rata produk lokal dan mempunyai SNI. Dia menilai hal ini penting untuk menjaga pasar Indonesia dengan kualitas yang baik.

“Kami mengharapkan pada  pemerintah, agar barang yang impor sebelum beredar di pasaran harus berstandar Indonesia. SNI itu penting, untuk menjaga pasar domestik,” katanya.

Sucofindo mencatat, dari beberapa barang yang masuk, hanya mainan anak yang sudah mempunyai aturan SNI. 

Vice Presiden bidang Goverment PT Sucofindo Harris Witjaksono, menambahkan, saat ini terdapat 14 lembaga yang memberikan sertifikasi pada produk di Indonesia. Terdiri dari 10 lokal dan 4 dari internasional.

Di Indonesia, kata Harris, baru ada 450 produk yang telah disertifikasi dengan baik. “Lewat sertifikasi tentu akan lebih berdaya jual. Kami menginginkan agar pasokan ekspor tidak lagi dari bahan baku, melainkan barang jadi yang sudah disertifikasi,” katanya.

Dia sendiri mengatakan, pada bidang furniture terutama standar kayu di Jepara masih belum ada sertifikasi. Sehingga produk barang ukir khas Jepara belum bisa banyak masuk di pangsa internasional.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Cara Bayar Shopee lewat ATM BRI dan BRImo dengan Mudah

Cara Bayar Shopee lewat ATM BRI dan BRImo dengan Mudah

Spend Smart
Apa yang Dimaksud dengan Inflasi dan Deflasi?

Apa yang Dimaksud dengan Inflasi dan Deflasi?

Earn Smart
Gampang Cara Cek Mutasi Rekening lewat myBCA

Gampang Cara Cek Mutasi Rekening lewat myBCA

Spend Smart
Penurunan Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Indonesia Berpotensi Tertahan

Penurunan Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Indonesia Berpotensi Tertahan

Whats New
Gaji ke-13 untuk Pensiunan Cair Mulai 3 Juni 2024

Gaji ke-13 untuk Pensiunan Cair Mulai 3 Juni 2024

Whats New
Masuk ke Beberapa Indeks Saham Syariah, Elnusa Terus Tingkatkan Transparansi Kinerja

Masuk ke Beberapa Indeks Saham Syariah, Elnusa Terus Tingkatkan Transparansi Kinerja

Whats New
Pesawat Haji Boeing 747-400 Di-'grounded' Pasca-insiden Terbakar, Garuda Siapkan 2 Armada Pengganti

Pesawat Haji Boeing 747-400 Di-"grounded" Pasca-insiden Terbakar, Garuda Siapkan 2 Armada Pengganti

Whats New
ASDP Terus Tingkatkan Peran Perempuan pada Posisi Tertinggi Manajemen

ASDP Terus Tingkatkan Peran Perempuan pada Posisi Tertinggi Manajemen

Whats New
Jaga Loyalitas Pelanggan, Pemilik Bisnis Online Bisa Pakai Strategi IYU

Jaga Loyalitas Pelanggan, Pemilik Bisnis Online Bisa Pakai Strategi IYU

Whats New
Bulog Targetkan Serap Beras Petani 600.000 Ton hingga Akhir Mei 2024

Bulog Targetkan Serap Beras Petani 600.000 Ton hingga Akhir Mei 2024

Whats New
ShariaCoin Edukasi Keuangan Keluarga dengan Tabungan Emas Syariah

ShariaCoin Edukasi Keuangan Keluarga dengan Tabungan Emas Syariah

Whats New
Insiden Kebakaran Mesin Pesawat Haji Garuda, KNKT Temukan Ada Kebocoran Bahan Bakar

Insiden Kebakaran Mesin Pesawat Haji Garuda, KNKT Temukan Ada Kebocoran Bahan Bakar

Whats New
Kemenperin Pertanyakan Isi 26.000 Kontainer yang Tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak

Kemenperin Pertanyakan Isi 26.000 Kontainer yang Tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak

Whats New
Tingkatkan Akses Air Bersih, Holding BUMN Danareksa Bangun SPAM di Bandung

Tingkatkan Akses Air Bersih, Holding BUMN Danareksa Bangun SPAM di Bandung

Whats New
BEI: 38 Perusahaan Antre IPO, 8 di Antaranya Punya Aset di Atas Rp 250 Miliar

BEI: 38 Perusahaan Antre IPO, 8 di Antaranya Punya Aset di Atas Rp 250 Miliar

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com