KADIN: BBM Bersubsidi Langka, Konsumen Tidak Bisa Disalahkan

Kompas.com - 27/08/2014, 20:59 WIB
Papan pengumuman bertuliskan stok solar bersubsidi habis dipasang di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta, Senin (25/8). Pembatasan penjualan solar bersubsidi bersubsidi mulai berdampak dengan kosongnya stok solar bersubsidi di sejumlah spbu di Jakarta dan sekitarnya. KOMPAS / IWAN SETIYAWANPapan pengumuman bertuliskan stok solar bersubsidi habis dipasang di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta, Senin (25/8). Pembatasan penjualan solar bersubsidi bersubsidi mulai berdampak dengan kosongnya stok solar bersubsidi di sejumlah spbu di Jakarta dan sekitarnya.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menilai, penyataan Pertamina yang menganggap konsumen BBM bersubsidi di Pulau Jawa manja tidak tepat. Bahkan, KADIN juga mempertanyakan pernyataan Pertamina tersebut.

"Kok konsumen yang disalahkan? Jangan disalahkan konsumennya, yang disalahkan itu bagaimana mengatur politik anggaran kita," ujar Wakil Ketua KADIN Bidang Logistik Natsir Mansyur di Jakarta, Rabu (27/8/2014).

Mansyur mengatakan, terjadinya kepanikan di masyarakat bukannya tanpa sebab. Menurut dia, justru kebijakan Pertamina yang membuat panik masyarakat, sehingga terjadi antrean pembelian BBM diberbagai SPBU seluruh Indonesia.

"Ya bukan manja, itu kan kebijakan yang dibuat BPH Migas dan Pertamina. Itu kan kebijakan yang kurang tepat karena tidak merata dan diskriminasi. Masak ada SPBU dapat jatah tapi ada yang tidak dapat. Itu kan politiknya besar sekali dan bisa membuat masyarakat resah," kata dia.

Lebih lanjut Mansyur mengatakan, Pertamina sebagai operator BBM di Indonesia seharusnya menerapkan prinsip korporasi dengan baik. Dengan itu, jika kuota BBM bersubsidi habis, maka Pertamina harus menghentikan penjualan BBM dengan harga subsidi dan menjual dengan harga BBM non-subsidi.

"Ini sekarang kan kacau orang jadi ketakutanlah. Biasalah kan rakyat kecil sepanjang bisa membeli minyak, kalau jam 12 harga BBM bersubsidi mau dinaikkan, sorenya sudah terjadi ketakutan," kata Mansyur.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.