Indonesia Bisa Kalah di MEA Karena Penduduk Tak Cakap Berbahasa Inggris

Kompas.com - 26/09/2014, 06:39 WIB
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com – Infrastruktur jalan, gudang, pelabuhan, penting. Namun sumber daya manusia dengan kecakapan berbahasanya sebagai soft infrastructure pun tak kalah penting dalam menghadapi pasar bebas ASEAN 2015 (MEA 2015).

Head of Trade Global Trade and Receivables Finance HSBC, Nirmala Salli mengatakan kecakapan berbahasa Inggris pekerja Indonesia kalah dibanding Malaysia dan Singapura. Padahal, siapapun investor yang akan masuk ke Indonesia membutuhkan para pekerja yang fasih berbahasa Inggris.

“Betul, local demand kita naik dan middle class kita selalu menarik. Tapi ini (MEA) bukan soal kalah-menang (market size). Tapi orang-orangnya siap enggak? Kalau kita tidak siap, pada akhirnya investor yang masuk, juga akan membawa serta tenaga kerja dari luar,” kata Nirmala, Kamis (25/9/2014).

Selain tenaga kerja yang handal, kunci bertarung di pasar bebas ASEAN adalah komunikasi pemerintah kepada pebisnis terkait manfaat perjanjian perdagangan bebas yang ditandatangani. Nirmala menjelaskan, sebetulnya tujuan pemerintah meneken berbagai macam Free Trade Agreement (FTA) adalah untuk memudahkan para eksportir.

“Sayangnya, pemerintah tidak melakukan sosialisasi, sehingga hanya sedikit pebisnis yang menyatakan mendapat benefit dari FTA. Kita harapkan pemerintah lebih aktif mengomunikasikan benefit dari FTA. Itu yang kita harapkan dari pemerintah yang signing agreement tersebut,” kata dia.

Hasil survei yang dilakukan HSBC pada kuartal I-2014 terhadap 800 perusahaan di delapan negara yakni Australia, China, Hongkong, India, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Vietnam, menunjukkan Indonesia adalah negara yang paling banyak memanfaatkan FTA.

Sebanyak 42 persen dari 100 perusahaan di Indonesia menyatakan sudah memanfaatkan FTA. Angka ini paling tinggi dibanding tujuh negara lain, yakni Vietnam (37 persen), Hongkong (33 persen), India (27 persen), China (23 persen), Singapura (21 persen), Australia (19 persen), dan terendah Malaysia (16 persen).

Lucunya, kata Nirmala, pada pertanyaan lain, Indonesia menjadi negara di mana para pebisnisnya memiliki pemahaman tentang FTA paling rendah. Dengan jumlah responden sama, hanya 24 persen pebisnis Indonesia yang paham apa itu FTA. Angka ini paling rendah dibanding tujuh negara lain, yakni Hongkong (32 persen), Vietnam (42 persen), Singapura (47 persen), China (48 persen), Australia (50 persen), Malaysia (52 persen), dan tertinggi India (56 persen).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.