Cerita Susi "Labrak" Menteri Perdagangan soal Impor Garam

Kompas.com - 11/11/2014, 17:48 WIB
Petani ini memanen dan menjahit karung yang berisi garam, di tambaknya, desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (14/10/2014). Petani mengeluh lantaran harga garam kian merosot.
KOMPAS.com/Muhamad Syahri RomdhonPetani ini memanen dan menjahit karung yang berisi garam, di tambaknya, desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (14/10/2014). Petani mengeluh lantaran harga garam kian merosot.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastusi berkisah pernah "melabrak" Menteri Perdagangan Rachmat Gobel soal kebijakan impor garam. Kebijakan tersebut dinilai menjadi penyebab meruginya petani garam yang selama ini berada di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Susi menceritakan, dalam sebuah rapat koordinasi, dia mengeluhkan kebijakan itu kepada Menteri Perdagangan. "Saya bilang ke Pak Gobel, 'saya pindahkan portofolio petani garam ke bapak (Kementerian Perdagangan). Uang saya, saya pakai untuk yang lain. Saya habis dana miliaran rupiah untuk membina mereka (petani garam). Namun, begitu garam impor masuk, matilah mereka," ujar Susi, Selasa (11/11/2014).

Dia menyayangkan masih adanya ego sektoral sehingga kebijakan yang dikeluarkan menjadi tidak selaras. "Jadi, saya kasih Bapak (Gobel) saja. Mau kasih mati, mau kasih hidup, silakan. Mosok departemen satu menghidupkan, yang satu mematikan. Kan enggak betul itu," lanjut dia.

Susi pun dalam rapat tersebut berupaya menyamakan pengertian dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Dia mengklaim, akhirnya ada kesamaan pengertian di antara ketiganya.

Berdasarkan catatan Kompas.com, impor garam konsumsi ke Indonesia diduga mengalir sebanyak 255.000 ton sepanjang tahun 2013. Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai, impor garam tersebut memukul swasembada garam konsumsi nasional yang telah berjalan selama tiga tahun terakhir.

Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Februari lalu mengemukakan bahwa impor garam konsumsi diduga tidak hanya berlangsung pada tahun 2013, tetapi berlanjut pada Januari-Februari 2014.

Kementerian tersebut menyatakan perlunya klarifikasi apakah impor garam ini telah sesuai dengan aturan tata niaga Kementerian Perdagangan. Impor garam konsumsi dikhawatirkan memukul usaha garam rakyat yang terus berbenah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hingga tahun 2013, total petambak garam mencapai 31.432 orang, dengan total luas lahan 35.000 hektar, termasuk lahan PT Garam. Kapasitas produksi garam konsumsi adalah 70 ton-120 ton per hektar. Tahun 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi garam konsumsi mencapai 3,3 juta ton.

baca juga: Menteri Susi: Kalau Saya Katakan BBM Bersubsidi Ini Sumber MaksiatDapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.