Menteri Susi: Tahun Depan, Indonesia Harus Bebas Impor Garam

Kompas.com - 09/12/2014, 17:07 WIB
Petani ini memanen dan menjahit karung yang berisi garam, di tambaknya, desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (14/10/2014). Petani mengeluh lantaran harga garam kian merosot.
KOMPAS.com/Muhamad Syahri RomdhonPetani ini memanen dan menjahit karung yang berisi garam, di tambaknya, desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (14/10/2014). Petani mengeluh lantaran harga garam kian merosot.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menargetkan swasembada garam pada 2015. Terkait dengan hal itu, Menteri Susi menggelar rapat koordinasi bersama Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.

"Hari ini meeting koordinasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Kementerian Perdagangan. Ada beberapa hal untuk menuju tujuan kabinet kerja, tentang swasembada di negeri kita," kata Susi, Selasa (9/12/2014).

Salah satu poin yang dibahas adalah soal swasembada garam. Menurut Susi, saat ini terlalu banyak produk kelautan dan perikanan yang terpaksa harus didatangkan dari luar negeri, seperti garam, ikan, dan bahkan pakan ikan (fish meal), dengan porsi impor mencapai 80 persen.

Susi mengatakan, salah satu persoalan petani garam adalah hasil produksi yang dihargai secara murah. Dengan menumbuhkan industri garam dan meningkatkan kualitasnya, dia berharap Indonesia bisa mencukupi kebutuhan domestik.

"Maunya dalam satu tahun kita tidak perlu impor lagi, apa pun (garam konsumsi ataupun industri). Yang jelas, kita punya persoalan harga garam murah. Ini harus dibetulkan," ujar Susi.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dalam kesempatan yang sama mengatakan, tiga kementerian akan membuat peta jalan industri garam untuk mengejar target swasembada. "Harusnya bisa dibuat di dalam negeri sehingga garam industri tidak perlu impor," ucap dia.

Kebutuhan garam nasional sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai 3,857 juta ton, terdiri dari garam konsumsi sebanyak 1,728 juta ton, dan garam industri sebanyak 2,128 juta ton. Sementara itu, ketersediaan garam secara keseluruhan mencapai 4,800 juta ton.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketersediaan tersebut terdiri dari stok awal sebanyak 666.455 ton, produksi sebanyak 2,1 juta ton, impor sebanyak 1,9 juta ton, dan ekspor sebanyak 3.000 ton. Dari prognosis tersebut, sisa garam tahun ini ditaksir sebanyak 943.809 ton.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.