Pengamat: Swasembada Pangan dengan Keterlibatan Babinsa, "Non-Sense"

Kompas.com - 16/01/2015, 12:41 WIB
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi pertanian di Indonesia sudah banyak mengalami perubahan. Jika dulu pada awal tahun 1960-an para petani belum mengenal panca usaha tani. Kini, kondisi para petani sudah jauh lebih pandai.

Ahli pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menjelaskan, pada 1960-an umumnya para petani menggunakan benih lokal, pupuk kandang, dan bahkan beberapa malah tidak dipupuk, lantaran tanahnya masih subur.

Namun, selanjutnya, pertanian di Indonesia berubah pada masa Orde Baru. Para petani banyak menggunakan benih jenis tertentu, perstisida, dan sebagainya yang diatur oleh pemerintah. Hasilnya, Indonesia mencapai swasembada pada 1984. Sayangnya, capaian ini harus dibayar dengan resiko ekologis yang besar.

“Petani kini sudah luar biasa pandai. Petani kita ini memiliki kapasitas terkait teknologi budidaya, benih unggul sendiri, menangkarkan sendiri, pupuk organik sendiri, dan sistem pengendalian hama terpadu,” kata Andreas, kepada Kompas.com, Jumat (16/1/2015).

Andreas lebih lanjut mengatakan, ketika kondisinya berbeda dari berpuluh-puluh tahun lalu, maka sistem penyuluhan tidak bisa lagi menjadi pola lama.

Sebagai pengingat, kata Andreas, pada waktu itu masa Orde Baru, sangat kental sekali program ABRI masuk desa. Andreas khawatir, jika hal ini kembali dilakukan di masa Joko Widodo, yakni dengan keterlibatan Babinsa, maka hasilnya akan sama dengan yang dilakukan pada masa Orde Baru.

“Hasilnya sudah jelas, tidak berhasil, yakinlah,” ucap Andreas.

Lebih lanjut dia pesimistis dengan kapabilitas babinsa untuk menjadi penyuluh pertanian. Sebab, selama 10 tahun terakhir ini saja penyuluh pertanian yang berasal dari insinyur pertanian telah gagal mewujudkan swasembada.

“Apalagi Babinsa yang tidak ada kemampuan, swasembada? Non sense,” ucap dia.

Andreas mengatakan, selama 10 tahun terakhir impor komoditas pertanian pangan meningkat 346 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2003 impor pangan tercatat 3,34 miliar dollar AS, sedangkan pada 2013 impor pangan mencapai 14,90 miliar dollar AS, atau hampir tumbuh 4 kali lipat.

Di sisi lain, BPS juga melaporkan, kontribusi pertanian dalam PDB (Pendapatan Domestik Bruto) terus turun yaitu dari 15,19 persen terhadap PDB pada 2003, menjadi hanya 14,43 persen terhadap PDB pada 2013.

baca juga: Mentan Amran: Beras Indonesia Akan Serang Balik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.