Daripada Babinsa, Lebih Baik Dosen dan Peneliti yang Jadi Penyuluh Pertanian

Kompas.com - 16/01/2015, 20:19 WIB
Joko Widodo saat berbincang dengan petani di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (13/6/2014). KOMPAS.com/Indra AkuntonoJoko Widodo saat berbincang dengan petani di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (13/6/2014).
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa mengatakan, daripada melibatkan babinsa sebagai penyuluh pertanian, lebih baik Presiden Joko Widodo menjalankan konsep penyuluh swakarsa yang dulu pernah disusun bersama pokja pangan tim transisi.

“Babinsa itu pengetahuan pertaniannya nol besar. Kalau pun dididik, mana bisa mereka melakukan penyuluhan pertanian. Sarjana pertanian saja ditertawakan. Katanya, mereka (sarjana) tahunya hanya pemupukan dan jarak tanam. Itu yang selalu disampaikan petani,” kata Andreas dihubungi Kompas.com, Jumat (16/1/2015).

Andreas lebih lanjut tidak membayangkan apa jadinya jika Babinsa yang pengetahuan pertaniannya lebih rendah dari para petani, menjadi penyuluh pertanian.

Untuk solusi kekurangan penyuluh pertanian ini, Andreas mengatakan Presiden Jokowi tinggal menjalankan konsep penyuluh swakarsa. “Artinya, biarlah penyuluhan itu dilakukan oleh petani mandiri, petani pelopor. Penyuluh kedua adalah para dosen dan peneliti pertanian. Sehingga, dengan demikian teknologi pertanian langsung tertransfer,” imbuh dia.

Dia juga bilang, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat para penyuluh pertaniannya adalah seorang profesor. “Karena mereka (pemerintahnya) sadar, petani kini semakin pandai. Tidak bisa dicekokin sesuatu, apalagi yang ‘mencekoki’ itu tidak tahu. Malah, uang negara terhambur-hamburkan untuk mereka,” kata dia.

Andreas mengatakan, jumlah petani pelopor ada jutaan. Sehingga tidak susah untuk mencukupi kekurangan penyuluh pertanian sebanyak 20.0000 orang.

“Kalau ini menjadi kebijakan pemerintah, ini sangat bagus. Bukan babinsa diangkat jadi penyuluh, ini apa-apaan. Saya dengan dari kawan-kawan, UGM sudah melakukan training untuk Babinsa,” tandas Andreas.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.