Kompas.com - 17/02/2015, 09:37 WIB
Proses flotasi atau pengapungan mineral tambang, seperti tembaga, emas, dan perak. Proses itu dilakukan untuk memperoleh konsentrat yang terdiri dari tembaga, emas, dan perak. Konsentrat itu kemudian dialirkan ke Pelabuhan Amamapare, dikeringkan, dan kemudian dikirim ke pabrik-pabrik pengecoran. KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTOProses flotasi atau pengapungan mineral tambang, seperti tembaga, emas, dan perak. Proses itu dilakukan untuk memperoleh konsentrat yang terdiri dari tembaga, emas, dan perak. Konsentrat itu kemudian dialirkan ke Pelabuhan Amamapare, dikeringkan, dan kemudian dikirim ke pabrik-pabrik pengecoran.
EditorErlangga Djumena


JAKARTA, KOMPAS.com -
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berubah sikap terkait instruksi kepada PT Freeport Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) di Papua.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sukhyar mengatakan, pemerintah hanya akan mewajibkan Freeport untuk mengirimkan pasokan konsentrat ke pabrik yang akan dibangun di Bumi Cendrawasih tersebut.

"Di lapangan, kami  dapatkan legal entitas yang akan menggelar pemurnian itu BUMD yang akan bekerjasama dengan China," kata Sukhyar di kantornya, Senin (16/2/2015).

Asal tahu saja, sebelumnya Kementerian ESDM meminta Freeport untuk membangun smelter di dua lokasi yakni di Gresik, Jawa Timur dan di Mimika, Papua. Smelter di Gresik yang saat ini masih dalam tahapan basic engineering ditargetkan bisa beroperasi mulai 2017, sedangkan pabrik di Papua diminta dibangun pasca 2021.

Belakangan, pemerintah daerah menuntut pembangunan smelter di Papua agar dipercepat pelaksanaan. Akhir pekan lalu, rombongan Kementerian ESDM pun melakukan kunjungan langsung ke calon lokasi permbangunan smelter di Papua.

Namun, Sukhyar belum memastikan investor asal China yang akan menjadi partner BUMD Papua dalam proyek pembangunan smelter copper cathode.  "Kami tidak tahu, ESDM akan memastikan perusahaan yang ada di sana, jangan sampai nanti malah terkendala di jalan," kata dia. (Muhammad Yazid)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.