Kereta Api dan Kapal Laut Akan Gunakan Bahan Bakar Gas

Kompas.com - 20/02/2015, 10:10 WIB
Rangkaian kereta commuter line saat melintas di Stasiun Juanda, Senin (5/8/2013). PT KCJ berencana akan menambah jumlah rangkaian kereta untuk mengantisipasi kenaikan jumlah penumpang setelah diberlakukan tarif progresif. KOMPAS.COM/RATIH WINANTI RAHAYURangkaian kereta commuter line saat melintas di Stasiun Juanda, Senin (5/8/2013). PT KCJ berencana akan menambah jumlah rangkaian kereta untuk mengantisipasi kenaikan jumlah penumpang setelah diberlakukan tarif progresif.
EditorErlangga Djumena

BATAM, KOMPAS.com — Pemerintah akan memulai penggunaan bahan bakar gas untuk kereta api dan kapal laut. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan, proyek percontohan (pilot project) pemanfaatan bahan bakar gas untuk moda transportasi kereta api dan kapal laut tersebut akan segera dilakukan.

"Saya sudah bilang ke Dirjen Migas Kemen ESDM, PT KAI dan Pelni. Kita mau ada MoU (nota kesepahaman) soal konversi ke BBG, mudah-mudahan bulan ini bisa diteken," kata Direktur Gas BPH Migas Djoko Siswanto di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (18/2/2015).

Proyek percontohan itu, menurut Djoko, dilakukan untuk bisa menggenjot penggunaan bahan bakar gas dalam rangka konversi dari bahan bakar minyak.

Ia menuturkan, dalam kerja sama itu nanti, Kementerian ESDM akan menyiapkan converter kit, PT KAI dan Pelni menyiapkan kereta dan kapal yang bahan bakarnya bisa dikonversi, sedangkan PT PLN, Pertamina Gas, dan PGN menyiapkan fasilitas gas.

"Sementara itu, Ditjen Perhubungan Laut nanti harus siapkan lahan di pelabuhan untuk SPBG," ujarnya.

Menurut Djoko, pemanfaatan gas untuk kereta api dan kapal laut memungkinkan untuk dilakukan. Pasalnya, negara lain seperti Kanada dan Norwegia telah menerapkannya dengan sukses.

Terlebih lagi, berdasarkan persyaratan internasional, kapal-kapal Indonesia sudah dilarang masuk ke Eropa karena berbahan bakar solar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Untuk kapal, peraturan internasional menyatakan bahwa kapal kita tidak bisa ke Eropa karena masih pakai solar. Seharusnya 70 persen sudah dicampur gas alam cair (liquefied natural gas atauLNG)," katanya.

Djoko juga memaparkan, dalam studi oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sudah ada 286 lokomotif kereta yang bisa dikonversi agar bisa menggunakan gas sebagai bahan bakarnya.

Selain alasan ramah lingkungan, konversi ke gas diklaim bisa menghemat penggunaan bahan bakar minyak untuk kereta api yang per tahun menghabiskan 108.000 kiloliter. "Kalau pakai gas, cukup 11 MMSCFD saja," katanya.

Djoko mengatakan, pada target masa mendatang, akan ada total 50 kapal perintis dan 30 kapal Pelni yang sudah bisa dikonversi menggunakan BBG.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Antara
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.