Harga Beras Melonjak, Wapres Pastikan Tak Akan Buka Keran Impor

Kompas.com - 24/02/2015, 09:53 WIB
Buruh memikul beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur beberapa waktu lalu KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZESBuruh memikul beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur beberapa waktu lalu
Penulis Icha Rastika
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Jusuf Kalla memastikan bahwa pemerintah tidak akan membuka keran impor beras dalam waktu dekat. Menurut dia, stok beras dalam negeri masih aman sehingga belum perlu mengimpor beras.

"Enggak, enggak, sampai sekarang enggak (perlu impor), artinya impor itu kalau perlu," kata Kalla di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Senin (23/2/2015).

Kendati demikian, Kalla mengatakan bahwa langkah pemerintah tersebut bukan berarti selamanya menutup keran impor. Menurut dia, impor beras akan diberlakukan jika memang diperlukan dalam kondisi tertentu. Namun, sejauh ini, lanjut Kalla, kenaikan beras yang terjadi belakangan ini bukan karena kurangnya stok beras, melainkan ada masalah dalam administrasi penyalurannya.

"Tapi, sekarang ini setelah kita pelajari, oh masalah suplai raskin (beras untuk warga miskin) yang kurang dari 350.000 ton," kata dia.

Oleh karena itu, Wapres memerintahkan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyalurkan 300.000 ton raskin pada bulan ini. Diharapkan, penyaluran raskin tersebut bisa menstabilkan harga.

Senada dengan Wapres, Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil juga menyatakan pemerintah belum akan impor beras dalam waktu dekat. Kendati demikian, menurut dia, pemerintah mungkin mengimpor beras pada tahun depan untuk cadangan sekaligus mencapai sasaran swasembada.

"Sebagaimana diketahui, buat cadangan, sasaran swasembada, paling tahun depan. Sekarang ini kalau produksi meningkat, kita enggak perlu impor," ucap dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Diberitakan sebelumnya, harga beras mulai naik dalam beberapa pekan terakhir. Di pasar-pasar, beras kualitas menengah yang awalnya Rp 9.000 per kilogram kini rata-rata sudah naik 30 persen menjadi Rp 12.000 per kilogram. Untuk kualitas premium, harganya sudah mencapai Rp 15.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 11.000 per kilogram.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.