Menteri Jonan: Tolak Peneliti Asing yang Cuma Modal "Kampus"

Kompas.com - 09/03/2015, 12:05 WIB
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan menginstruksikan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan review terhadap curriculum vitae (CV) para peneliti asing.

Jonan mengatakan, apabila para peneliti itu tak memiliki pengalaman riil di lapangan, Balitbang Kemenhub diminta menolaknya.

"Saya minta kalau ada bantuan dari luar negeri, harus di-review. Saya mau profesi expert harus pernah di sektor riil atau pernah melaksanakan di sektor riil. Kalau cuma peneliti, tidak usah (diterima)," ujar Jonan di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (9/3/2015).

Menurut Jonan, seorang peneliti tak bisa hanya bergantung pada teori. Baginya, pengalaman nyata di lapangan merupakan hal yang penting. Pasalnya, apabila para expert tak memiliki pengalaman di lapangan, hasil penelitiannya akan dinilai tak bermanfaat bagi masyarakat.

Dia mencontohkan saat bertugas di PT KAI, penumpang yang naik di atas kereta berhasil dia hilangkan. Satu hal kata Jonan yang menjadi resep suksesnya KAI itu, yaitu tak berteori melainkan langsung praktik.

"Pada zaman Pak Harto, gak bisa (dihilangkan penumpang naik di atas kereta). Zaman Pak Harto itu mungkn bisa tangkap orang dengan serius, tapi gak bisa loh. Kenapa KAI bisa? Gak usah diteliti. Kalau diteliti, apa debat, diskusi, uji publik, lima tahun habis waktu saya. Saya bilang kerjakan saja, selesai." Kata dia.

Sementara itu, Kepala Balitbang Kemenhub Elly Eliana Sinaga mengatakan bahwa saat ini kerjasama tukar menukar peneliti dengan berbagai negara terus dilakukan Kemenhub. Salah satunya dengan berbagai universitas terkemuka di Korea Selatan.

Menindaklanjuti permintaan Jonan untuk melakukan review peneliti asing, Elly mengatakan akan segera menjalankannya. Menurutnya, apa yang diungkapkan Jonan merupakan isyarat menolak peneliti asing yang hanya bermodal "ilmu kampus" tanpa memiliki pengalaman lapangan yang jelas.

"Kalau expert-nya itu kampusan, gak pernah bekerja kongkrit, ya buat apa juga kita pakai kan," ucap Elly.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.