Kompas.com - 27/04/2015, 10:43 WIB
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) memberikan keterangan pada wartawan terkait pertemuan dengan Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah usai membuka Asian African Business Summit yang merupakan rangkaian Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta Convention Centre, Jakarta, Selasa (21/4/2015). Indonesia kembali menyatakan ketegasannya untuk mendukung kemerdekaan Negara Palestina. TRIBUNNEWS / DANY PERMANAPresiden Joko Widodo didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) memberikan keterangan pada wartawan terkait pertemuan dengan Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah usai membuka Asian African Business Summit yang merupakan rangkaian Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta Convention Centre, Jakarta, Selasa (21/4/2015). Indonesia kembali menyatakan ketegasannya untuk mendukung kemerdekaan Negara Palestina.
Penulis Suhartono
|
EditorErlangga Djumena

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com Presiden Joko Widodo menyatakan, Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA yang akan mulai berlaku pada 1 Januari 2016 tak bisa mundur lagi. Alasannya, semuanya sudah dibahas sejak 2003 silam.

"Ya, harus siap karena sudah tidak bisa mundur lagi. Pokoknya, harus siap. Namun, yang paling penting, menurut saya, kita akan identifikasi dulu dalam waktu yang sangat dekat ini," ujar Presiden Jokowi saat ditanya seusai jamuan makan malam di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Malaysia, Minggu (26/4/2015).

Menurut Presiden Jokowi, identifikasi produk-produk tentunya untuk yang mempunyai nilai saing tinggi dengan produk sejenis dari negara lain. "Selain itu, tentu yang mempunyai daya saing, bisa memasuki pasar di negara lain, dan bisa menyerang ke kanan kiri kita, ke negara ASEAN. Nah, itu yang harus kita identifikasi," katanya.

Presiden Jokowi menambahkan, bekerja itu harus optimistis dan jangan pesimistis. "Jangan takut (dengan MEA) karena semua negara juga takut dengan berlakunya ASEAN Economic Community (MEA) ini. Kita harus optimistis karena kita punya produk yang macam-macam. Ini harus kita identifikasi. Mana yang punya daya saing, itu yang masuk ke negara-negara kanan kiri. Saya kira itu yang dalam waktu yang pendek ini harus dikerjakan," ujarnya.

Terkait komoditas yang kompetitif, Presiden menyebutkan contohnya ialah minyak kelapa sawit (CPO), meskipun juga banyak dihasilkan banyak negara ASEAN lainnya selain Indonesia.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.