Transaksi dengan Ringgit Merajalela , Lima "Money Changer" Didirikan di Pasar Baru

Kompas.com - 30/04/2015, 14:21 WIB
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

BANDUNG, KOMPAS.com – Untuk mencegah peredaran mata uang ringgit di Pasar Baru Bandung, Bank Indonesia mengeluarkan izin Kegiatan Usaha Penukatan Valuta Asiang (KUPVA) atau money changer pada lima bank di pasar tersebut.

Hal ini mutlak dilakukan, pasalnya, saat ini sudah banyak ringgit yang beredar di Pasar Baru. “Di Bandung, ada 14 KUPVA yang berizin. Khusus untuk Pasar Baru, saat ini ada lima bank untuk penukaran. Satu bank belum berizin dan tengah mengurus perizinannya,” ujar Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Jawa Barat, Rosmaya Hadi, dalam konferensi pers Penandatanganan Nota Kesepahaman BI-Polri dalam Mencegah TIndak Pidana di Jabar, Kamis (30/4/2015).

Rosmaya mengatakan, Pasar Baru merupakan salah satu tujuan wisata yang kerap didatangi turis Malaysia. Ada kalanya wisatawan asing tersebut kesulitan menukarkan uang hingga akhirnya melakukan transaksi dalam bentuk ringgit. Padahal, tindakan tersebut melanggar PBI Nomor 17/3/PBI/2015 yang mewajibkan penggunaan rupiah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Namun ia mengaku, infrastruktur di beberapa lokasi pariwisata di Bandung belum maksimal. Seperti di Bandara Internasional Husein Sastranegara. Sebagai salah satu pintu masuk wisatawan asing ke Bandung, seharusnya di pintu keluar bandara terdapat bank. “Idealnya, pas turis turun dari bandara ada bank. Tapi karena Husein sempit, setelah 100 meter berjalan baru ada bank. Apalagi sekarang dengan adanya pot-pot bunga, Husein jadi tambah sempit,” ungkapnya.

Bandung sebagai ibu kota provinsi Jawa Barat memiliki aktivitas transaksi bisnis yang besar dan menjadi salah satu sentra utama kegiatan penukaran valuta asing. Itu bisa dilihat dari kontribusi nilai transaksi Uang Kertas Asing (UKA) rata-rata bulanan dalam satu tahun terakhir mencapai Rp765 miliar. Angka tersebut menjadi empat besar setelah Jakarta, Denpasar, dan Batam.

“Karenanya, penataan struktur industry KUPVA di Bandung sangat penting, agar kelangsungan bisnis dan kegiatan usaha di sector ini dapat berjalan dengan lancar dan aman,” tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.