2016 Pun Indonesia Masih Belum Bisa Lepas dari "Jerat" Impor Garam

Kompas.com - 28/05/2015, 16:02 WIB
Petani ini memanen dan menjahit karung yang berisi garam, di tambaknya, desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (14/10/2014). Petani mengeluh lantaran harga garam kian merosot.
KOMPAS.com/Muhamad Syahri RomdhonPetani ini memanen dan menjahit karung yang berisi garam, di tambaknya, desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (14/10/2014). Petani mengeluh lantaran harga garam kian merosot.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia masih belum bisa lepas dari "jerat" impor garam pada 2016. Setidaknya, hal itu bisa tecermin dari pernyataan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Partogi Pangaribuan.

Menurut dia, kebutuhan garam nasional yang tinggi, sementara produksi dalam negeri rendah, memaksa pemerintah untuk melakukan impor, terutama garam, terkait keperluan industri. "Terpaksa kami impor (garam) untuk keperluan Januari-Juni (2016 nanti)," ujar Partogi seusai acara Seminar Nasional Garam 2015 di Jakarta, Kamis (28/5/2015).

Dia menjelaskan, saat ini kebutuhan garam nasional untuk konsumsi sebanyak 1,7 juta ton dan garam untuk industri sebanyak 2,1 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi garam nasional hanya 2,1 juta ton. Itu pun garam konsumsi, bukan garam industri.

Menurut Partogi, garam konsumsi dan Industri memiliki perbedaan, yaitu pada kadar NaCl-nya. Untuk garam konsumsi, kadar NaCl ada di bawah 98 persen.

Sementara itu, pada garam industri, kadar NaCl harus mencapai 98 persen. "Garam konsumsi kita sisa sekitar 400.000 ton setiap tahun. Misalnya, jika sisa garam konsumsi itu dikembangkan kembali dengan meningkatkan kandungan NaCl hingga 98 persen, maka pemerintah masih akan tetap impor garam (1,7 juta ton garam industri) karena kebutuhan garam industri hanya berkurang 400.000 ton (dari kebutuhan 2,1 juta ton)," kata Partogi.

Sebenarnya, kata dia, Indonesia bukan tak mampu memproduksi garam industri. Hanya, Indonesia saat ini memiliki kekurangan sumber daya, salah satunya lahan. Misalnya, kata dia, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara iklim sangat baik untuk budidaya garam, tetapi bermasalah secara lahan.

Oleh karena itu, kata dia, pembangunan industri garam merupakan hal yang sangat penting bagi Indonesia, dan bisa mengakhiri ketergantungan pada impor garam.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.