Kompas.com - 08/06/2015, 12:00 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
|
EditorErlangga Djumena

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan, sepanjang Juni ini rupiah akan mengalami tekanan berat. Tekanan rupiah diperkirakan mereda pada Juli dan berlanjut bulan berikutnya, itu pun dengan catatan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve belum mengerek suku bunganya.

"Sampai sebulan ini sepertinya masih berat," kata David dihubungi Kompas.com, Senin (8/6/2015).

David menuturkan, nilai tukar mata uang Garuda yang pagi ini hampir menyentuh Rp 13.400 disebabkan lantaran menipisnya cadangan devisa, di sisi lain perekonomian negeri Paman Sam terus menunjukkan perbaikan.

"Data tenaga kerja membaik melebihi ekspektasi pasar. Ini menjadi sentimen positif untuk dollar AS, namun negatif untuk mata uang negara-negara emerging market, termasuk Rupiah," ujar David.

Merespon kondisi tersebut, David mengatakan, Bank Indonesia tentu sudah pasti harus melakukan intervensi pasar. Pasar keuangan Indonesia tidak terlalu tebal, hanya sekira 5 miliar dollar AS - 6 miliar dollar AS per hari.

"Jadi kalau ada permintaan yang kuat, yang tiba-tiba besar dalam satu hari, ya pastinya kita bisa kekurangan pasokan. Di situ BI berperan," kata David.

David mengatakan, sebenarnya untuk menjaga stabilitas rupiah ini bisa dilakukan dengan cara lain, selain instrumen bank sentral. Kebijakan hedging atau lindung nilai, sebut David, harusnya diimplementasikan efektif.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kebijakan ini kan untuk menghindari agar transaksi tidak tertumpuk di pasar spot semua. Nah ini juga mungkin efektivitasnya perlu dilakukan. Terutama untuk BUMN yang besar-besar seperti Pertamina dan PLN," kata David.

Dia menyebut transaksi minyak adalah yang membutuhkan dollar AS paling besar tiap harinya, dengan impor antar 100 juta dollar AS sampai 150 juta dollar AS. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada awal perdagangan, Senin (8/6/2015), makin terpuruk hingga titik terendah dalam 17 tahun terakhir.

Di pasar spot, Senin pagi ini, seperti ditunjukkan data Bloomberg, mata uang Garuda ini dibuka melorot ke posisi Rp 13.382 per dollar AS dibanding penutupan sebelumnya, yakni 13.290.

Adapun hingga pukul 11.30 WIB ini, rupiah masih terkapar di posisi Rp 13.270 per dollar AS.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.