Kembangkan Bisnis Non-Hankam, Pindad Siap Produksi Ekskavator Dalam Negeri

Kompas.com - 28/06/2015, 14:05 WIB
Ekskavator buatan anak negeri, PT Pindad (Persero), Excava 200, akan diluncurkan pada 17 Agustus 2015, Bandung, Sabtu (27/6/2015). Ekskavator yang dibanderol kisaran 90.000-110.000 dollar AS ini diharapkan bisa menjadi produk substitusi impor. ESTU SURYOWATI/Kompas.comEkskavator buatan anak negeri, PT Pindad (Persero), Excava 200, akan diluncurkan pada 17 Agustus 2015, Bandung, Sabtu (27/6/2015). Ekskavator yang dibanderol kisaran 90.000-110.000 dollar AS ini diharapkan bisa menjadi produk substitusi impor.
|
EditorBayu Galih

BANDUNG, KOMPAS.com – Perusahaan pembuat ekskavator dan alat berat, seperti Caterpillar, Komatsu, Kobelco, Hitachi, dan Doosan, harus siap-siap berbagi lebih banyak 'kue' dari pangsa pasar alat berat di Indonesia. Sebab, dalam waktu dekat PT Pindad (Persero) juga akan meluncurkan Excava 200 yang dibanderol dengan kisaran harga 90.000 – 110.000 dollar AS per unit.

Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim menjelaskan, perusahaan alutsista tersebut kian mengembangkan bisnis non-pertahanan dan keamanan, sebagaimana arahan dari Presiden Joko Widodo. Pada 12 Januari 2015, Presiden Jokowi dan jajaran berkunjung ke pabrik Pindad, dan meminta perseroan pelat merah itu untuk meningkatkan porsi bisnis non-alutsista menjadi 25 persen.

Setelah melihat peluang pasar dan kebutuhan untuk pembangunan infrastruktur, Pindad memutuskan untuk melakukan diversifikasi produk, salah satunya dengan membuat ekskavator. Namun, Silmy memastikan pula bahwa pilihan ini bukan tanpa dasar kompetensi dari Pindad.

“Kompetensi kita di hidrolik. Kita bisa bikin crane. Kita sudah bisa membuat Anoa, tank, kurang lebih sama. Kemudian roda rantai, juga sama, malah lebih gampang. Saya tanya (ke karyawan), gampangan mana bikin tank sama ekskavator? (Mereka bilang) Gampang ekskavator. (Saya bilang) Ya sudah bikin,” cerita Silmy saat Menteri BUMN Rini Soemarno dan rombongan wartawan berkunjung ke pabrik Pindad, Bandung, Sabtu (27/6/2015).

Gayung pun bersambut, Menteri Perindustrian Saleh Husin dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono memberikan dukungan kepada Pindad untuk mengembangkan produk ekskavator. Pindad diminta memproduksi 100 unit ekskavator dalam satu tahun. Tak sabar, Basuki pun ingin melihat prototipe ekskavator tersebut pada Juni 2015.

“Ini Menteri PU dan Pera yang minta. Kita sudah kerja siang-malam untuk bisa menghasilkan ekskavator tersebut. Akhirnya, selesai 10 Juni kemarin. Kemudian, uji sertifikasi pada September-Oktober, dan 2016 langsung produksi,” ucap Silmy.

Silmy menerangkan, pasar alat berat di Indonesia masih sangat didominasi pemain luar. Padahal, potensinya pada tahun 2012 saja mencapai 7927 unit. Silmy berharap, Exvaca 200 bisa mencaplok 10 persen dari 'kue' di pangsa pasar tersebut, atau sekitar 790 unit selama lima tahun ke depan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam kesempatan yang juga dihadiri sejumlah direksi BUMN Karya itu, Silmy berharap, BUMN bisa mengambil 50 persen dari 790 unit itu. Demikian pula dengan Kementerian PU-Pera yang diharapkan bisa memesan minimal 300 unit.

Excava 200 didominasi warna merah dan putih yang melambangkan bendera Indonesia. “Ekskavator ini akan diluncurkan 17 Agustus, dan menjadi hadiah bagi Indonesia, bahwa kita ikut membangun pembangunan bangsa Indonesia ke depan, membangun infrastruktur,” ujar Silmy.

Subtitusi impor

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.