Kadin Harap Pemerintah Jokowi Bawa Ekonomi Indonesia "Take Off"

Kompas.com - 21/08/2015, 02:20 WIB
Presiden Joko Widodo memberikan gambaran makro ekonomi Indonesia dalam silaturahmi dengan dunia usaha di Jakarta Convention Center, Kamis (9/7/2015). Dalam acara tersebut, Presiden berdiskusi terkait tantangan ekonomi bersama 400 ekonom yang merupakan bagian dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia. KOMPAS/HENDRA A SETYAWANPresiden Joko Widodo memberikan gambaran makro ekonomi Indonesia dalam silaturahmi dengan dunia usaha di Jakarta Convention Center, Kamis (9/7/2015). Dalam acara tersebut, Presiden berdiskusi terkait tantangan ekonomi bersama 400 ekonom yang merupakan bagian dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorBayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap pemerintahan Jokowi mampu membawa ekonomi Indonesia "lepas landas" saat ini. Sebab, menurut Kadin, pemerintahan sebelumnya sudah membuat landasan pacu perekonomian yang cukup baik.

"Jadi ini saat yang tepat untuk percepatan kemajuan ekonomi negeri. Pemerintah yang dulu sudah perkuat landasannya, sekarang (pemerintahan Jokowi) saatnya take-off,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perbankan dan Finansial, Rosan P Roeslani dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jakarta, Kamis (20/8/2015).

Salah satu tantangan yang ada di depan mata, kata Rohan, adalah pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Indonesia kata dia, menjadi negara yang banyak dilirik para investor untuk menanamkan investasinya. "Investor banyak yang ingin masuk ke sini asalkan infrastruktur bagus dan ada kepastian regulasi," kata dia.

Meski begitu, Rohan mengakui bahwa "take off" perekonomian Indonesia tak akan bisa mulus dilakukan. Ini dikarenakan kondisi perekonomian nasional saat ini banyak mendapatkan tekanan perekonomian global.

Seperti diketahui pertumbuhan ekonomi turun menjadi 4,67 persen pada kuartal II-2015 ini, yang berarti pertumbuhan paling lambat dalam enam tahun terakhir. Bersamaan dengan itu jumlah permintaan barang (konsumsi) di dalam negeri juga menurun, demikian halnya dengan harga batu bara dan komoditi ekspor unggulan Indonesia lainnya.

Nilai tukar rupiah merosot terhadap dolar sejak awal tahun ini karena ketidakpastian kenaikan suku bunga acuan AS dan belum pulihnya ekonomi Tiongkok. Kedua negara tersebut merupakan rekanan utama perdagangan Indonesia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.