Waspadai Krisis Malaysia, Pemerintah Jaga Pasar Dalam Negeri

Kompas.com - 22/08/2015, 05:20 WIB
Pengusaha yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla, Sofjan Wanandi, saat ditemui di Jakarta, Jumat (14/8/2015). KOMPAS / AGUS SUSANTOPengusaha yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla, Sofjan Wanandi, saat ditemui di Jakarta, Jumat (14/8/2015).
Penulis Icha Rastika
|
EditorBayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com Mewaspadai lesunya perekonomian Malaysia, pemerintah akan menjaga pasar dalam negeri. Pemerintah merasa perlu mewaspadai krisis di Malaysia mengingat negara tetangga itu merupakan mitra kerja sama ekonomi Indonesia yang cukup dekat.

"Kebijakan spesifiknya kita menjaga market dalam negeri kita, ikut pasar dalam negeri, terus menjaga. Ekspor kan kita enggak mungkin lagi karena melawan China yang sudah over production dan devaluasi mata uangnya yang cukup banyak," kata Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (21/8/2015).

Lebih jauh Sofjan menyampaikan bahwa pemerintah perlu mempertahankan konsumsi dalam negeri dengan produk-produk substitusi yang juga dibuat di dalam negeri. Dengan demikian, pemerintah berharap bisa mengurangi kuota impor. Langkah lainnya adalah menjaga ketersediaan sembilan bahan pokok.

"Jadi semua sudah kita bicarakan, sembilan bahan pokok bagaimana. Semua itu sekarang sudah dibicarakan supaya kita waspada saja dan persiapkan dan situasi ini, bagaimana kita mempertahankan apa yang kita punya ini," ujar Sofjan.

Menurut dia, pemerintah perlu berhati-hati dalam menanggapi dampak yang mungkin muncul akibat pelemahan ekonomi Malaysia. Apalagi, situasi politik di sana turut memperkeruh kondisi Malaysia. Krisis ekonomi juga telah menjalar ke negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Thailand dan Myanmar.

"Karena Malaysia ini teman serumpun kita, teman dekat sekali. Kalau terjadi politiknya, ekonominya, susah sekali dan lebih parah dari Indonesia karena dia punya reses yang buat segalanya turun, kemanan ribut di dalam politiknya dan segala macam," tutur Sofjan.

Malaysia kini dihinggapi krisis politik tajam yang diawali dengan terbongkarnya megaskandal di 1MDB yang melibatkan Perdana Menteri Malaysia Nazib Razak. Lantaran Nazib Razak menolak mundur, tanggal 29 dan 30 Agustus nanti, aliansi 84 LSM Malaysia Bersih akan turun ke jalan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Masalah ini dinilai berpotensi menggoyang ekonomi Malaysia. Bukan hal muskil, untuk menopang ringgit, bank sentral Malaysia akan menjual asetnya, salah satunya obligasi, termasuk  Indonesia.

Skenario yang sama juga bisa dilakukan Thailand yang juga memegang obligasi kita. Sofjan juga menyampaikan bahwa Wapres telah mengarahkan agar koordinasi internal kabinet lebih baik di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. Ia berharap tidak ada lagi kegaduhan politik yang muncul karena adanya kementerian/lembaga yang programnya tak sesuai dengan garis besar kebijakan pemerintah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.