Kompas.com - 06/11/2015, 19:34 WIB
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo bersama Presiden Amerika Serikat Barrack Obama saat mengunjungi Gedung Putih, Senin (26/10/2015) Biro Pers Media dan Informasi/Laily RachevePresiden Republik Indonesia Joko Widodo bersama Presiden Amerika Serikat Barrack Obama saat mengunjungi Gedung Putih, Senin (26/10/2015)
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorJosephus Primus

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana Presiden Jokowi agar Indonesia bergabung dengan Trans Pasific Partnership (TPP) perlu dipikirkan ulang. Sebab bila hal itu dilakukan, Indonesia bisa tersandera.

Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina Firmanzah menuturkan, negara yang tergabung ke dalam TPP tak bisa memberikan perlakukan khusus kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Semua proyek pembangunan kata dia harus dilempar melalui tender terbuka. "Persaingannya standar global tapi Indonesia belum siap bersaing. Tidak ada program pendampingan industri nasional dan UMKM," ujar Firmanzah pada acara Diskusi Liberalisasi Perdagangan: Ancaman atau Peluang? di Jakarta, Jumat (6/11/2015).

TPP sebagai bentuk liberalisme perdagangan ucap dia, bisa menghilangkan peranan negara dalam ekonomi. Pasalnya, sektor ekonomi akan dibuka seluas-luasnya kepada negara-negara yang tergabung di dalamnya.

Hilangnya peran pemerintah dalam ekonomi itu dianggap bertentangan dengan Nawa Cita. Seperti diketahui, Nawa Cita mewajibkan negara untuk selalu hadir dalam pembangunan. Artinya, bila Indonesia bergabung dengan TPP dengan segala keterikatan, peranan negara dalam ekonomi dikhawatirkan bisa sirna.

Meski di sisi lain, ada peluang produk Indonesia mudah masuk ke negara angggota TPP. Tapi hal itu diyakini tak akan semulus yang dipikirkan.

Kualitas produk dan harga sangat menentukan suatu produk bisa bersaing atau tidak di kancah global. "Pemerintah harus selektif untuk bergabung pada kerjasama internasional. Pilih mana yang lebih cocok? Kalau bisa, buat negosiasi sehinggga menguntungkan Indonesia," ucap Firmanzah.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.