Bangun Smelter, Dua Perusahaan Ini Gelontorkan Rp 6,4 Triliun

Kompas.com - 07/12/2015, 14:53 WIB
Smelter atau pabrik pengolahan dan pemurnian mineral PT Well Harvest Winning (WHW) Alumina Refinery, di Air Upas, Ketapang, Kalimantan Barat Selasa (4/8/2015). Tiap tiga ton MGB (metallurgical grade bauxit) menghasilkan satu ton SGA. Tahap I, kapasitas produksi smelter WHW sebanyak 1 juta ton SGA per tahun. Progress smelter per Juli 2015, mencapai 63 persen. ESTU SURYOWATI/KOMPAS.comSmelter atau pabrik pengolahan dan pemurnian mineral PT Well Harvest Winning (WHW) Alumina Refinery, di Air Upas, Ketapang, Kalimantan Barat Selasa (4/8/2015). Tiap tiga ton MGB (metallurgical grade bauxit) menghasilkan satu ton SGA. Tahap I, kapasitas produksi smelter WHW sebanyak 1 juta ton SGA per tahun. Progress smelter per Juli 2015, mencapai 63 persen.
|
EditorErlangga Djumena
BANTAENG, KOMPAS.com - PT Titan Mineral Utama (TMU) dengan PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia (HNAI) membangun membangun pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter ) di Kawasan Industri Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Smelter itu diharapkan dapat mulai berproduksi pada tahun 2016 mendatang.

"PT Titan Mineral Utama berinvestasi sebesar Rp 4,7 triliun dan PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia sebesar 130 juta dollar AS atau setara Rp 1,7 triliun, dengan perhitungan kurs Rp 13.500. Saat ini, smelter masih dalam tahap konstruksi," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani di Kawasan Industri Bantaeng, Senin (7/12/2015) siang.

Adapun untuk mengoperasikan smelter tersebut, PT Titan Mineral Utama akan mempekerjakan 1.000 orang tenaga kerja. Sedangkan PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia berencana merekrut 900 orang pekerja.

Lebih rinci lagi, Franky menjelaskan, saat ini, PT TMU sedang melakukan pembangunan tahap pertama konstruksi dengan kapasitas produksi Ferronickel sebesar 12.000 ton/tahun yang akan mulai berproduksi komersial pada Februari 2016.

Dalam pembangunan pabrik smelter-nya, PT TMU berencana memasang 20 tungku blast furnace, dimana pada saat ini pihaknya sudah melakukan instalasi empat tungku. Sedangkan PT HNAI masih melaksanakan konstruksi tahap pertama dengan kapasitas 100.000 ton Ferronickel per tahun dengan menggunakan dua tungku Rotary Kiln Electric Furnace yang ramah lingkungan.

Perusahaan tersebut optimis proses konstruksi pabrik smelter nikel dapat diselesaikan pada bulan Desember 2015. Pada Januari 2016, PT HNAI akan melakukan trial produksi dan diharapkan pada bulan Februari 2016 dapat memulai produksi serta melakukan ekspor perdana.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Realisasi investasi smelter nikel dan Kawasan Industri Bantaeng membuktikan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Bantaeng dalam mendorong pencapaian nilai tambah mineral nikel di Indonesia,” tutur Franky.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.