Kompas.com - 08/12/2015, 05:12 WIB
Polair Polda Sulselbar menggelar delapan kasus illegal fishing di kantornya di Jl Pasar Ikan, Makassar, Jumat (28/3/2014). KOMPAS.com/Hendra CiptoPolair Polda Sulselbar menggelar delapan kasus illegal fishing di kantornya di Jl Pasar Ikan, Makassar, Jumat (28/3/2014).
|
EditorBambang Priyo Jatmiko
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kelautan dan Perikanan menyatakan bahwa kegiatan penangkapan ikan ilegal atau illegal fishing sudah sampai pada tingkat yang berlebihan.

Bahkan, kapal-kapal asing sudah berani menangkap ikan secara ilegal tidak hanya ke perairan di kawasan perbatasan RI.

"Yang paling parah saat ini illegal fishing adalah dari Filipina. Sudah sampai ke perairan Sulawesi Utara," kata Susi dalam konferensi pers di kantornya, Senin (7/12/2015).

Menurut Susi, ada modus yang terjadi di Bitung, Sulawesi Utara. Para nelayan kekurangan bahan bakar minyak (BBM) sehingga tidak bisa melaut. Rupanya, BBM banyak keluar dan dibuang ke tengah laut.

"Kejadian nelayan kekurangan BBM itu terjadi di NTT dan di Sulawesi, di Bitung. Laporan-laporan illegal fishing banyak," ungkap Susi.

Oleh sebab itu, beberapa waktu lalu Susi menerbitkan larangan kapal-kapal besar untuk menangkap ikan.

Menurut Susi, jika kapal-kapal besar diperbolehkan menangkap ikan di kawasan seperti Kendari, Tomini, hingga ke bagian selatan Sulawesi Selatan, maka nelayan Indonesia tidak lagi mampu menangkap ikan tuna yang ukurannya besar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Di sana itu ikan tunanya besar-besar. Kemarin Armatim (Komando Armada Timur) menangkap satu kapal. Itu sudah di Toli-Toli, itu kan sudah sangat ke bawah. Sudah sangat berani ke bawah (ke selatan)," ungkap Susi.

Susi menjelaskan, para pelaku penangkapan ikan ilegal biasanya menggunakan kapal-kapal besar lalu berganti dengan kapal-kapal yang ukurannya lebih kecil namun jumlahnya banyak.

"Mereka biasanya kapalnya kecil-kecil. Pakai kapal besar di bawah ada 30 unit nanti di tengah laut disebar (untuk) menangkap ikan. Tramper-nya menunggu di perbatasan," tutur Susi.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.