Kompas.com - 16/12/2015, 11:59 WIB
Anak-anak bermain di toilet umum yang terdapat di kawasan Waduk Ria Rio, Pedongkelan, Jakarta Timur. Foto diambil bulan Agustus 2008. Di Jakarta, satu juta orang masih buang air besar sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah. KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNAAnak-anak bermain di toilet umum yang terdapat di kawasan Waduk Ria Rio, Pedongkelan, Jakarta Timur. Foto diambil bulan Agustus 2008. Di Jakarta, satu juta orang masih buang air besar sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah.
|
EditorPalupi Annisa Auliani

KOMPAS.com – Investasi dan jamban, apa hubungannya? Pertanyaan yang wajar langsung berdenging saat dua kata itu disebut bersamaan. Lalu, bagaimana hubungan dua kata tersebut? Seperti apa pula hitungannya?

Merujuk data Bank Dunia, ada sekitar 2,5 miliar penduduk dunia tidak punya fasilitas jamban yang layak. Dari jumlah itu, satu miliar orang bahkan masih buang air besar sembarangan di sungai atau ladang.

Di Indonesia, jumlah orang yang buang air besar sembarangan diperkirakan juga masih lebih dari 50 juta. “Setengah populasi masyarakat pedesaan tidak memiliki akses sanitasi layak," tulis laporan Bank Dunia untuk pertemuan para menteri terkait keuangan, air, dan sanitasi yang berlangsung di Washington DC, Amerika Serikat pada 11 April 2014.

Laporan yang sama menyebutkan, dari perkiraan 57 juta orang masih buang air besar sembarangan di Indonesia, 40 juta di antaranya tinggal di pedesaan. Padahal, jamban layak merupakan salah satu fasilitas sanitasi dasar. Bila tidak terpenuhi, beragam penyakit rawan berjangkit, mulai dari diare hingga gizi buruk.

Karena diare, anak-anak terpaksa absen dan kehilangan jatah waktu belajarnya di sekolah. Bahkan, disebutkan oleh Bank Dunia, pada 2008, diare menyebabkan kematian pada 1,4 juta anak di dunia. Untuk Indonesia, Bank Dunia menghitung orang Indonesia harus merogoh tambahan pengeluaran Rp 1,25 juta per tahun gara-gara sanitasi tak layak.

Investasi sanitasi

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada masa lalu, sulit membuktikan bahwa minimnya toilet mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun, belakangan, sejumlah riset menunjukkan hal tersebut. Setiap rupiah investasi untuk sanitasi akan menghasilkan nilai ekonomi delapan hingga sebelas kali lipat.

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Jawa Timur, misalnya, mendapati setiap investasi Rp 1 memicu masyarakat berinvestasi hingga Rp 35. [Kompas.com, 1/6/2012].

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Warga Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta, mencuci pakaian, peralatan dapur, dan membersihkan makanan dengan air Sungai Ciliwung yang tercemar. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan masih rendah di sebagian wilayah di sepanjang bantaran sungai itu.

Gagal berinvestasi untuk sanitasi berarti kegagalan pengelolaan sampah hingga pencemaran sungai dan air tanah. Tak hanya itu. Sanitasi buruk memiliki kaitan erat dengan peningkatan kualitas air minum.

Kedua permasalahan tersebut tak akan selesai bila tak ada terobosan upaya. Studi Bank Pembangunan Asia (ADB) mendapati, kegagalan investasi Rp 1 untuk sanitasi butuh Rp 36 untuk membiayai upaya membersihkannya.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.