Rokok Penyumbang Kemiskinan, Wapres Sebut Tanda "Lampu Merah"

Kompas.com - 07/01/2016, 07:48 WIB
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorErlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com - Rokok menjadi salah satu penyumbang terbesar kemiskinan di Indonesia. Begitu rilis Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini. (baca: Ketimbang pada 2014, Kemiskinan September 2015 Lebih Parah)

Wakil Presiden Jusuf Kalla menganggap realita tersebut sebagai kondisi yang sudah lampu merah alias gawat. Sebab merokok sudah menjadi kebiasaan yang susah ditinggalkan, termasuk oleh masyarakat yang pendapatannya kurang.

"Jadi memang itu suatu tanda yang lampu merah sebenarnya yang kita harus atasi. Seperti itu," ujar Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (6/1/2016).

Menurut dia, pengeluaran rokok adalah pengeluaran yang tidak perlu. Apalagi jika pendapatan tidak naik sementara harga rokok naik, otomatis keperluan pokok belum bisa tidak tercukupi.

Pemerintah, kata dia, tidak tinggal diam. Sebab sudah mengambil kebijakan untuk terus menerus menaikkan cukai rokok. Namun karena merokok sudah menjadi kebiasaan, harga cukai yang tinggi tidak membuat masyarakat berhenti membeli rokok.

"Karena itu selalu dimanapun banyak negara (melakukan) pembatasan soal rokok itu diatur lewat kampanye juga dengan harga," kata dia.

Namun, Kalla belum bisa memastikan apakah kebijakan pembatasan rokok akan diambil pemerintah atau tidak. Apalagi perusahaan-perusahaan besar di Indonesia adalah perusahaan-perusahaan rokok.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Saleh Husin telah meneken Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 63/M-IND/PER/8/2015 tentang Peta Jalan (Roadmap) Produksi Industri Hasil Tembakau tahun 2015-2020.

Pada 2020, target jumlah rokok yang diproduksi di Indonesia bisa mencapai 524,2 miliar batang atau dua kali lipat dari jumlah yang diproduksi tahun 2015. Peraturan ini dinilai bisa mengancam kualitas tenaga kerja produktif Indonesia pada tahun 2020.

Pada periode September 2014-September 2015, garis kemiskinan naik dari Rp 312.328 per kapita per bulan pada September 2014 menjadi Rp 344.809 per kapita per bulan, atau naik 10,4 persen.

Konsumsi rokok berkontribusi terhadap garis kemiskinan yakni sebesar 8,08 persen di perkotaan dan 7,68 persen di pedesaan pada September 2015. Data itu menempatkan konsumsi rokok menjadi penyumbang kedua tersebar garis kemiskinan setelah beras.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Strategi Melati Eks JKT 48 Kembangkan Bisnis Nasi Bakar Kuali Kuning

Strategi Melati Eks JKT 48 Kembangkan Bisnis Nasi Bakar Kuali Kuning

Smartpreneur
Upah PMI Sektor Domestik di Taiwan Naik Jadi Rp 9,9 Juta

Upah PMI Sektor Domestik di Taiwan Naik Jadi Rp 9,9 Juta

Whats New
Pemerintah Kantongi Rp 10,6 Triliun dari Lelang Sukuk Negara

Pemerintah Kantongi Rp 10,6 Triliun dari Lelang Sukuk Negara

Whats New
Daftar Limit Transfer BCA Lengkap

Daftar Limit Transfer BCA Lengkap

Spend Smart
Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 14.870,5 per Dollar AS

Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 14.870,5 per Dollar AS

Whats New
Dirut PLN Ungkap Adanya Potensi Krisis Pasokan Batu Bara

Dirut PLN Ungkap Adanya Potensi Krisis Pasokan Batu Bara

Whats New
BKN Sebut ASN RI Lebih dari 4,3 Juta, Tapi Jumlah Perempuan Jadi Pimpinan Masih Minim

BKN Sebut ASN RI Lebih dari 4,3 Juta, Tapi Jumlah Perempuan Jadi Pimpinan Masih Minim

Whats New
Turun 9,55 Persen, Laba Bersih Lippo Cikarang Rp 222,5 Miliar di Semester I-2022

Turun 9,55 Persen, Laba Bersih Lippo Cikarang Rp 222,5 Miliar di Semester I-2022

Rilis
Reli Berakhir, IHSG Ditutup di Zona Merah Hari Ini

Reli Berakhir, IHSG Ditutup di Zona Merah Hari Ini

Whats New
Bos Indofood Bantah Kabar soal Harga Mi Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat

Bos Indofood Bantah Kabar soal Harga Mi Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat

Whats New
OJK: Sampai Saat Ini Belum Ada Rencana untuk Normalisasi Jam Perdagangan Bursa

OJK: Sampai Saat Ini Belum Ada Rencana untuk Normalisasi Jam Perdagangan Bursa

Whats New
Mengenal Tugas CEO dan Tanggung Jawabnya dalam Perusahaan

Mengenal Tugas CEO dan Tanggung Jawabnya dalam Perusahaan

Whats New
Beda Pendapat dengan Mentan, Mendag Sebut Harga Mi Instan Tidak Akan Naik 3 Kali Lipat

Beda Pendapat dengan Mentan, Mendag Sebut Harga Mi Instan Tidak Akan Naik 3 Kali Lipat

Whats New
Inflasi Pangan Tembus 10 Persen, Gubernur BI: Harusnya Tidak Boleh Lebih dari 5-6 Persen

Inflasi Pangan Tembus 10 Persen, Gubernur BI: Harusnya Tidak Boleh Lebih dari 5-6 Persen

Whats New
Atasi Sampah Organik, Bank DBS Indonesia dan Kebun Kumara Hadirkan Layanan Kompos Kolektif

Atasi Sampah Organik, Bank DBS Indonesia dan Kebun Kumara Hadirkan Layanan Kompos Kolektif

BrandzView
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.