Kompas.com - 19/02/2016, 09:49 WIB
Ilustrasi: Para pekerja bersiap membersihkan jendela Shanghai World Financial Center di daerah Pudong, Shanghai, China. Ekonomi Shanghai diproyeksikan tumbuh sebesar 734 miliar dollar AS selama periode 2013-2030. www.bloomberg.comIlustrasi: Para pekerja bersiap membersihkan jendela Shanghai World Financial Center di daerah Pudong, Shanghai, China. Ekonomi Shanghai diproyeksikan tumbuh sebesar 734 miliar dollar AS selama periode 2013-2030.
|
EditorAprillia Ika
PARIS, KOMPAS.com - Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyerukan aksi darurat yang harus dilakukan oleh para pemimpin dunia guna menghindari perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Seruan ini menyusul revisi prediksi OECD terhadap pertumbuhan ekonomi global. Tahun lalu, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2016 mencapai 3,3 persen. Namun, OECD merevisinya menjadi hanya 3 persen.

Penyebabnya, perdagangan, investasi, dan kenaikan upah yang terlalu lemah. Selain itu, pemangkasan suku bunga acuan dan perbaikan kebijakan moneter lainnya tak mampu mendorong pertumbuhan.

"Suku bunga acuan di berbagai negara telah dipangkas guna menstimulasi pinjaman dan investasi. Di banyak negara, suku bunga acuan terpantau amat rendah," tulis OECD seperti dikutip dari BBC, Jumat (19/02/2016).

OECD menyebut, faktor terbesar di balik perlambatan pertumbuhan ekonomi global adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi China, di mana pertumbuhan ekonomi jatuh dari di atas 7 persen menjadi di bawah 6 persen.

Lembaga kajian tersebut memprediksi pertumbuhan ekonomi China berada pada posisi 6,5 persen tahun ini.

Sementara itu, OECD merevisi ke atas prediksi pertumbuhan ekonomi India. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi India untuk tahun 2016 diprediksi 7,3 persen, namun direvisi menjadi 7,4 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adapun untuk negara maju seperti AS, OECD menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2016 dari 2,5 persen menjadi 2 persen.

Pasalnya, OECD menyoroti keputusan Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Awalnya, keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan bertujuan untuk menenangkan kekhawatiran investor.

Namun, bagi banyak pihak, keputusan itu malah dianggap sebagai tindakan optimistis yang prematur.

"Kebijakan moneter tidak bisa bekerja sendirian. Respon kebijakan kolektif yang lebih kuat diperlukan untuk memperkuat permintaan," ujar OECD.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber BBC.com
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.