Investor Dikabarkan Akan Hengkang dari Batam, Ini Komentar BKPM

Kompas.com - 22/02/2016, 18:32 WIB
Salah satu galangan di kawasan Sekupang, Batam, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu. Industri galangan kapal menjadi salah satu andalan Batam. Namun, daya saing Batam sebagai kawasan industri terus menurun karena ketidakjelasan peraturan, maraknya pungli, dan kelesuan perekonomian global. KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADASalah satu galangan di kawasan Sekupang, Batam, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu. Industri galangan kapal menjadi salah satu andalan Batam. Namun, daya saing Batam sebagai kawasan industri terus menurun karena ketidakjelasan peraturan, maraknya pungli, dan kelesuan perekonomian global.
|
EditorM Fajar Marta
JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa waktu lalu dikabarkan investor akan hengkang dari Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani, sepanjang pantauannya hingga bulan November 2015 lalu, tidak ada investor yang akan meninggalkan Batam.

"Waktu tahun lalu kira-kira bulan Oktober atau November saya ke sana, 20 perusahaan lebih saya ketemu dan tidak ada yang hengkang. Justru mereka sedang melakukan perluasan," kata Franky di Jakarta, Senin (22/2/2016).

Menurut Franky, dirinya tidak menampik isu yang melanda kawasan tersebut adalah terkait pengelolaan.

Oleh sebab itu, kata dia, pihaknya kini tengah melakukan pembenahan pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.

Dengan adanya pembenahan pengelolaan tersebut setidaknya akan memberikan kepastian bagi investor yang baru dan yang akan menanamkan modalnya di kawasan Batam.

Franky pun menyatakan pihaknya akan secepatnya menangani masalah pengeloaan di sana.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya kira ini kan isunya pengelolaan. Kalau pengelolaan dibereskan, pasti itu akan menarik," tutur Franky.

Seperti diberitakan sebelumnya, kekacauan pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam mulai menimbulkan dampak besar.

Akibatnya, investor dikabarkan akan ramai-ramai hengkang dari kawasan tersebut.

Nuryanto, Staf Ahli Menteri Dalam Negeri yang juga mantan Pejabat Gubernur Kepulauan Riau, mengatakan, investor hengkang karena buruknya pengelolaan kawasan tersebut.

Rencananya, investor tersebut akan hengkang ke Vietnam dan Malaysia.

"Persentasenya mencapai 30 persen dari total pabrik karena Malaysia dan Vietnam tawarkan yang lebih baik," ujar Nuryanto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.