Harga Ayam Naik-Turun, Pemerintah Baru Sibuk Bicara Struktur Pasar

Kompas.com - 08/03/2016, 12:03 WIB
Peternak mengecek pakan ternak ayam broiler di Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (25/2/2016). Sepekan terakhir, harga ayam broiler hidup di tingkat peternak di Cirebon berangsur anjlok dari Rp 18.000 per kilogram menjadi Rp 9.000 per kilogram. KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRIPeternak mengecek pakan ternak ayam broiler di Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (25/2/2016). Sepekan terakhir, harga ayam broiler hidup di tingkat peternak di Cirebon berangsur anjlok dari Rp 18.000 per kilogram menjadi Rp 9.000 per kilogram.
|
EditorAprillia Ika
JAKARTA, KOMPAS.com – Kesepakatan Kementerian Pertanian dengan 12 perusahaan perunggasan untuk memusnahkan enam juta induk ayam dinilai pemicu tingginya harga daging ayam.

Kebijakan tersebut pada waktu itu diambil lantaran harga daging ayam anjlok, akibat kelebihan pasokan.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf memandang memang selama ini harga ayam naik-turun lumayan ekstrem.

Biang kerok dari itu semua kata dia adalah struktur pasar perunggasan yang tidak sehat, dan hanya dikuasai segelintir pemain.

“Jadi tadi kita bicara struktur pasar di perunggasan itu seperti apa. Memang saya kira Pak Menko juga menyadari bahwa penguasaan pasar di unggas itu sangat tinggi, ada satu-dua perusahaan besar yang menguasai,” kata Syarkawi usai rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Senin malam (7/3/2016).

Lebih lanjut dia mengatakan, dalam rapat bersama Darmin Nasution, dibahas kebijakan jangka pendek dan jangka menengah untuk menata industri perunggasan.

Kebijakan yang disiapkan tidak hanya untuk menghindari naik-turunnya harga ayam, tetapi lebih dari itu untuk menjaga persaingan lebih sehat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Sehingga peternak mandiri itu benar-benar bisa eksis, dan peternak kemitraan pun tidak dieksploitasi oleh perusahaan inti,” ucap Syarkawi.

Salah satu yang tengah disiapkan adalah pembagian model bisnis untuk pasar domestik dan pasar ekspor. Syarkawi menyampaikan, ide tersebut merupakan pemikiran Darmin.

“Peternak afiliasi bisa masuk ke peternakan tapi orientasinya pasar ekspor. Sedangkan untuk melayani pasar domestik atau tradisional itu untuk peternak mandiri dan kemitraan. Tapi kemitraannya diatur secara detil, sehingga tidak dieksploitasi oleh perusahaan inti,” tukas Syarkawi.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.