Kompas.com - 29/04/2016, 16:54 WIB
|
EditorM Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad menilai ada sejumlah bank yang mengerjakan bisnisnya secara egois.

Maksudnya, bank ini lebih mementingkan aktivitas dagang untuk kepentingan sendiri (proprietary tradings).

"Hasil surveillance yang kami lakukan menunjukkan bahwa aktivitas proprietary tradings dalam pasar valuta asing yang dilakukan oleh beberapa bank nampak lebih dominan dibandingkan peran bank-bank tersebut sebagai lembaga intermediasi," kata Muliaman di Jakarta, Jumat (29/4/2016).

Padahal, ungkap Muliaman, fungsi intermediasi perbankan sangat penting dalam membiayai sektor-sektor prioritas yang tengah dicanangkan pemerintah, seperti infrastruktur yang membutuhkan pembiayaan tinggi.

"Saya hanya ingin sampaikan bahwa pada waktunya, terhadap bank-bank tersebut akan kami mintakan komitmennya agar lebih berperan aktif dalam merealisasikan fungsi intermediasi terutama untuk membiayai berbagai sektor prioritas yang telah digadang oleh Pemerintah dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan," ujar Muliaman.

Meskipun begitu, Muliaman enggan menyebutkan bank mana yang lebih mengutamakan kegiatan proprietary tradings ketimbang menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi tersebut.

Apa yang terjadi itu, imbuh Muliaman, bertentangan dengan upaya OJK yang kini tengah mendorong industri jasa keuangan baik konvensional maupun syariah untuk mendukung pembiayaan sektor produktif seperti infrastruktur.

Kepastian pembiayaan merupakan kunci dari berjalannya pembangunan infrastruktur.

Sebab, pembangunan infrastruktur merupakan proyek jangka panjang sehingga membutuhkan arus kas yang stabil dan dapat diprediksi.

Belum lama ini, Muliaman mengatakan, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) kebutuhan investasi di sektor infrastuktur di Indonesia sampai 2019 mencapai 419 miliar dollar AS.

Total potensi pembiayaan dari perbankan, pasar modal, dan industri keuangan nonbank diperkirakan mencapai 39 miliar dollar AS atau berkontribusi sekitar 10 persen dari total kebutuhan investasi di sektor infrastruktur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.