Kompas.com - 25/05/2016, 07:30 WIB
Suasana makan siang diiringi musik tradisional sasando dan biola di Pelangi Cafe, Shinagawa, Tokyo, Jepang, Selasa (17/5/2016). Penampilan seniman Indonesia itu merupakan bagian dari Indonesian Culinary Fair Tokyo 2016 yang digelar oleh Kedutaan Besar RI dan Djarum Foundation di Tokyo, 16 Mei hingga 30 Juni 2016. KOMPAS.com/LAKSONO HARI WIWOHOSuasana makan siang diiringi musik tradisional sasando dan biola di Pelangi Cafe, Shinagawa, Tokyo, Jepang, Selasa (17/5/2016). Penampilan seniman Indonesia itu merupakan bagian dari Indonesian Culinary Fair Tokyo 2016 yang digelar oleh Kedutaan Besar RI dan Djarum Foundation di Tokyo, 16 Mei hingga 30 Juni 2016.
Penulis Aprillia Ika
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Atase Perdagangan Tokyo Julia Gustaria menilai peluang ekspor produk halal ke Jepang terbuka lebar.

Menurut data yang dilansir dari Brand Research Institute Inc, penduduk muslim di Jepang diperkirakan berjumlah 185 ribu orang dan nilai pasar produk halal tidak kurang dari 54 miliar yen

Diperkirakan lebih dari 1 juta wisatawan muslim akan berkunjung ke Jepang pada 2020. Jika ditambahkan dengan nilai pasar produk halal sekarang, maka total besar pasar produk halal dapat mencapai 200 miliar yen pada 2020.

Nah, apa saja syarat ekspor produk halal ke Jepang yang harus dicermati oleh eksportir Indonesia?

"Secara umum, tidak ada regulasi khusus untuk produk makanan halal di Jepang," kata Julia melalui siaran pers ke Kompas.com. 

Namun ada dua regulasi yang harus diperhatikan. Pertama, regulasi yang berlaku yaitu Act on Domestic Animal Infectious Diseases Control.

Berdasarkan regulasi ini, importir produk-produk berkategori designated quarantine item harus menyiapkan permohonan inspeksi impor dan sertifikat inspeksi yang diterbitkan lembaga pemerintah negara asal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selanjutnya dokumen tesebut harus diserahkan ke kantor karantina hewan di bawah Kementerian Agrikultur, Kehutanan, dan Perikanan Jepang. Pihak karantina akan menerbitkan sertifikat karantina impor bila produk tersebut dinilai tidak akan menyebabkan penyebaran penyakit.

Regulasi kedua adalah Food Sanitation Act yang mengharuskan importir melaporkan produk dengan menyerahkan form notifikasi ke pihak karantina di bawah Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.

Selain itu, surat keterangan kandungan produk, surat keterangan proses produksi, dan sertifikat analisis juga harus disertakan. Bila menggunakan zat aditif makanan, importir perlu memastikan bahwa penggunaannya tidak dilarang di Jepang.

Kompas TV Data Ekspor Indonesia Naik Hampir 8%
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.