Ini Syarat-syarat Kapal Nelayan yang Bisa 'Hijrah' ke Natuna

Kompas.com - 15/07/2016, 08:23 WIB
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berencana memindahkan 417 kapal nelayan ke perairan Natuna, Kepulauan Riau secara bertahap mulai tahun ini. Hal tersebut merupakan salah satu keputusan rapat koordinasi tindak lanjut optimalisasi pengembangan potensi ekonomi Kepulauan Natuna, kemarin Rabu (13/7/2016).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar M Mochtar menuturkan, selain untuk menghidupkan industri perikanan di Natuna, rencana tersebut juga ditujukan untuk mendorong kesejahteraan nelayan-nelayan cantrang di pantai utara Jawa.

"Nelayan-nelayan cantrang di Pantura ini kan semakin kecil pendapatannya, makin susah menangkap ikan. Sementara Natuna ini masih ada ruang untuk pengembangan penangkapan ikan," kata Zulficar ditemui usai rapat badan anggaran DPR-RI, di Jakarta, Kamis (14/7/2016).

Atas dasar itu, lanjut Zulficar, pemerintah berencana memindahkan nelayan cantran Pantura ke Natuna. Namun demikian, ada beberapa syarat yang harus disekapati calon nelayan yang mau mengikuti program ini.

"Mereka nangkap di sana (Natuna) tapi dengan syarat tidak menggunakan cantrang, harus ganti alat tangkapnya, mereka lakukan tera ulang (ukur ulang), kemudian mereka nangkap di sana, jangan sampai konflik dengan masyarakat lokal," kata Zulficar.

Agar tidak menimbulkan konflik antara nelayan Pantura dan Natuna, Zulficar menyampaikan pemerintah juga berencana memberikan insentif kepada mereka. Namun, ia tidak merinci apa bentuk insentif yang disiapkan.

"Kemudian, setelah mereka menangkap, kalau pulang pakai kapalnya lagi kan jadi cost. Jadi, diharapkan kapalnya stay di sana. Mereka pulang dengan kapal laut atau pesawat tiap bulan misalnya. Tapi ini lagi di-exercise," imbuh Zulficar.

Diharapkan pada tahun ini sudah bisa dipindahkan 300 kapal nelayan cantrang ke Natuna. Sementara itu, untuk penggantian alat tangkap cantrang ke alat tangkap ramah lingkungan, Zulficar menegaskan pemerintah akan membantu akses ke perbankan bagi para nelayan.

Adapun kampung nelayan yang disiapkan, menurut Zulficar, akan dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Pembangunan pesisir Natuna akan dilakukan oleh seluruh K/L terkait di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. 

Sebelumnya, dikutip dari Harian KOMPAS, edisi 14 Juli 2016, jumlah kapal ikan yang terdata di Natuna saat ini sebanyak 915 kapal berukuran di atas 30 GT (gross ton), serta 2.000 kapal berukuran di bawah 30 GT.

Tambahan 417 kapal diharapkan mendorong kapasitas tangkapan ikan sebesar 40 persen dalam waktu kurang dari setahun.

Kompas TV Kapal Nelayan Tenggelam di Papua
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

CPNS Mengundurkan Diri Bisa Kena Denda, dari Puluhan Juta Rupiah Sampai Rp 100 Juta

CPNS Mengundurkan Diri Bisa Kena Denda, dari Puluhan Juta Rupiah Sampai Rp 100 Juta

Whats New
Mencermati Lonjakan Utang Indonesia ke China dari Tahun ke Tahun

Mencermati Lonjakan Utang Indonesia ke China dari Tahun ke Tahun

Whats New
Jelang KTT G20, PUPR Kebut Pekerjaan Penataaan Infrastruktur di Bali

Jelang KTT G20, PUPR Kebut Pekerjaan Penataaan Infrastruktur di Bali

Whats New
IHSG Menguat pada Sesi I Perdagangan, Saham BBNI, BBCA, dan BBRI Laris Diborong Asiang

IHSG Menguat pada Sesi I Perdagangan, Saham BBNI, BBCA, dan BBRI Laris Diborong Asiang

Whats New
IKN Dibangun Tahun Ini, Tim Komunikasi: Insya Allah on Schedule

IKN Dibangun Tahun Ini, Tim Komunikasi: Insya Allah on Schedule

Whats New
Jokowi Tekankan Kerja Sama Global Buat Mitigasi Bencana di Masa Depan

Jokowi Tekankan Kerja Sama Global Buat Mitigasi Bencana di Masa Depan

Whats New
Gandeng Prima, Nasabah Bank DKI Bisa Bertransaksi di Luar Negeri

Gandeng Prima, Nasabah Bank DKI Bisa Bertransaksi di Luar Negeri

Whats New
Hutan Terus Dibabat Demi Sawit, Ironinya Minyak Goreng Justru Mahal

Hutan Terus Dibabat Demi Sawit, Ironinya Minyak Goreng Justru Mahal

Whats New
Dalam Sepekan, JD.ID, LinkAja, dan Zenius Mem-PHK Karyawannya

Dalam Sepekan, JD.ID, LinkAja, dan Zenius Mem-PHK Karyawannya

Whats New
Jadi Agenda Presidensi G20, Pengembangan Ekonomi Digital Indonesia Diharapkan Sasar Kota Besar

Jadi Agenda Presidensi G20, Pengembangan Ekonomi Digital Indonesia Diharapkan Sasar Kota Besar

Whats New
Ini 3 Konglomerat Sawit RI yang Pilih Berkantor Pusat di Singapura

Ini 3 Konglomerat Sawit RI yang Pilih Berkantor Pusat di Singapura

Whats New
Daftar Negara Pemberi Utang ke Indonesia, Singapura Juaranya

Daftar Negara Pemberi Utang ke Indonesia, Singapura Juaranya

Whats New
Hanwha Life Raih Indonesian K-Brand Award 2022

Hanwha Life Raih Indonesian K-Brand Award 2022

Rilis
Program Pemberdayaan Masyarakat Bantu Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Program Pemberdayaan Masyarakat Bantu Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Whats New
Melantai di BEI Pagi Ini, Saham ASHA Langsung Mentok ARA

Melantai di BEI Pagi Ini, Saham ASHA Langsung Mentok ARA

Earn Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.