Demi Anak Bisa Kuliah, Orangtua di AS Rela Tunda Pensiun

Kompas.com - 16/08/2016, 15:16 WIB
Ilustrasi pendidikan www.shutterstock.comIlustrasi pendidikan
|
EditorAprillia Ika

NEW YORK, KOMPAS.com — Sebuah survei yang dihelat T Rowe Price Group Inc, perusahaan keuangan yang berpusat di Baltimore, menemukan banyak orangtua di Amerika Serikat rela menunda rencana pensiun mereka agar anak mereka bisa kuliah di perguruan tinggi. Apa benar?

Dalam survei itu disebutkan, tiga perempat dari orangtua yang memiliki buah hati berusia 8 hingga 14 tahun bersedia menunda pensiun mereka demi membayar biaya kuliah sang anak. Ini berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 1.086 kepala keluarga.

Sekitar 68 persen orangtua mengatakan, mereka bersedia memiliki pekerjaan sampingan untuk membayar sejumlah biaya itu. Sementara itu, 69 persen orangtua menuturkan, mereka memilih menyediakan dana untuk kuliah anak kemudian sisanya untuk pensiun.

Adapun 42 persen orangtua menyatakan, mereka sudah kehilangan banyak waktu tidur lantaran cemas memikirkan betapa mahalnya biaya kuliah pada masa mendatang. Sebanyak 63 persen orangtua merasa bersalah bahwa mereka tak mempunyai cukup uang.

Mengutip Bloomberg, Selasa (16/8/2016), Federal Reserve Bank pf New York dan Biro Sensus menyatakan, satu dari empat warga AS berusia 60 tahun ke atas masih bekerja dan belum menabung sepeser pun untuk pensiun. Sementara itu, satu dari enam orang AS masih menanggung utang pendidikan.

Secara kolektif, warga Amerika memiliki utang pinjaman pendidikan sebesar 1,4 triliun dollar AS. Angka ini naik dua kali lipat sejak tahun 2009, menurut data The Fed di Washington DC, yang menjamin keakuratan data itu hingga lebih dari 90 persen.

Karena besarnya utang pinjaman pendidikan, mereka menghindari perawatan medis, kesulitan membeli kebutuhan pangan sehari-hari, hingga menunda pernikahan. Rata-rata debitor memiliki utang pinjaman pendidikan sebesar 30.000 dollar AS.

Berdasarkan proyeksi federal, hingga tahun 2024 mendatang, hampir 22 persen warga AS berusia 65 tahun ke atas akan masih bekerja atau malah mencari pekerjaan. Angka ini naik dua kali lipat dibandingkan tahun 1984 silam.

 

Kompas TV Pengamat: Pendidikan Karakter Butuh Proses Panjang

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.