Apa Kata Produsen Rokok soal Kenaikan Tarif Cukai Hasil Tembakau?

Kompas.com - 30/09/2016, 21:10 WIB
Seorang pekerja sedang memproses pembuatan rokok kretek. KOMPAS.COM/AMIR SODIKINSeorang pekerja sedang memproses pembuatan rokok kretek.
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan baru saja memutuskan kenaikan tarif cukai hasil tembakau rata-rata sebesar 10,54 persen, dan mulai berlaku 1 Januari 2017.

Pemerintah berharap instrumen pengendali bisa menekan jumlah perokok di Indonesia. Namun, menurut Direktur Independen HM Sampoerna Yos Adiguna Ginting, konsumsi rokok tidak akan turun serta-merta dengan menaikkan tarif cukai hasil tembakau.

Malah, dengan harga rokok yang lebih mahal mereka akan berpindah mencari rokok-rokok alternatif atau rokok dengan pita cukai ilegal.

"Cukai adalah instrumen untuk pengendali konsumsi. Tetapi, cukai yang tidak diformulasikan dengan baik, tanpa penegakan rokok ilegal yang kuat, maka konsumennya hanya akan lari dari rokok resmi ke rokok ilegal. Jadi, bukan turun konsumsinya," kata Yos ditemui di Kantor DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Jakarta, Jumat (30/9/2016).

Oleh karena itu, sambung Yos, pemerintah perlu menyusun formula kenaikan tarif cukai hasil tembakau yang tepat agar instrumen pengendali konsumsi ini tepat sasarannya.

"Toh tidak ada gunanya dimahalkan, tetapi tidak turun perokoknya. Tetap merokok, tetapi justru yang tidak membayar cukai. Pemerintah kehilangan pendapatan," imbuh Ketua Bidang Perdagangan Internasional Apindo itu.

Menurut dia, kenaikan rata-rata tertimbang 10,54 persen untuk ketiga jenis sigaret terlalu tinggi. Bahkan, menurut dia, pelaku usaha dari sektor industri tembakau menyarankan kenaikan tarif cukainya tidak terlalu jauh dari inflasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Secara umum angka ini memberatkan, apalagi sesuai dengan laporan yang disampaikan asosiasi terkait sektor tembakau, volume penjualan tahun ini dalam tren menurun. Kami tentu khawatir kenaikan cukai ini memperburuk sektor ini," kata Yos.

Kompas TV Isu Kenaikan Harga Rokok Menyumbang Inflasi
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.